Fakta Mobil Kepresidenan Indonesia Mulai dari Soekarno Hingga Jokowi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setiap presiden tentu mempunyai cerita tersendiri mengenai kendaraan dinas yang digunakan selama menjabat sebagai pemimpin negara.

Seperti Presiden Joko Widodo misalnya, yang belum lama ini mobilnya mengalami kemogokan saat berkunjung ke Kalimantan Barat.

Terlepas dari peristiwa itu, fakta mengenai kendaraan yang pernah digunakan para presiden RI pun terkuak.

Berikut ini adalah 5 fakta mobil kepresidenan Indonesia yang dimulai dari presiden pertama, Soekarno hingga presiden yang sekarang, Joko Widodo.

1.Rampasan Perang Jadi Kendaraan Bung Karno

1

Semenjak ditetapkan menjadi Presiden pertama RI, Soekarno sudah mempunyai sejumlah mobil favorit untuk menunjang mobilitasnya sebagai presiden pertama Indonesia. Salah satunya adalah mobil jenis sedang Buick-8.

Mobil sedang Buick-8 ini bisa dibilang ‘unlimited’, karena hanya diproduksi sebanyak 1.415 unit di dunia.

Mobil ini dikemas dengan mesin berkapasitas 5,2 liter.

Namun sebelum mobil ini resmi digunakan sebagai kendaraan dinas Presiden Soekarno, mobil ini menyimpan cerita yang unik.

Ternyata, mobil yang ditemukan pada tahun 1945 di belakang kantor Departemen Perhubungan ini adalah hasil rampasan dari penjajah Jepang. Singkat cerita, Soekarno pun kemudian membujuk sopir mobil tersebut pulang ke kampungnya di Kebumen dan meminta kunci lalu mempersembahkannya kepada Presiden Soekarno sebagai kendaraan dinas.

Oleh Soekarno, mobil itu kemudian diberi pelat nomor kepresidenan Rep-1.

2.Mobil Soeharto, yang Setara Dengan Tunggangan Ratu Elizabeth

2

Sama seperti dengan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto juga sempat beberapa kali mengganti mobil dinasnya. Namun dari sekian jenis mobil yang pernah ditunggangi, ada satu diantaranya yang dilengkapi dengan teknologi canggih.

Adalah Marcedes-Benz 500SEL.

Mobil yang diluncurkan pada 1987 itu diklaim memiliki kesamaan spesifikasi keamanan setara dengan mobil dinas Bill Clinton dan Ratu Elizabeth II.

Marcedes-Benz 500SEL tunggangan Soeharto memiliki tipe mesin M117.963, yang dilengkapi dengan delapan silinder berkapasitas 5.0L, kaca anti peluru setebal tiga inci, serta dilapisi baja dan platina hitam yang tahan terhadap serangan peluru, mortir dan juga guncangan.

3.Dinasti Mercy S600 Dipakai 4 Presiden

3

Selepas Presiden Soeharto, kendaran dinas dengan merk Marcedes-Benz rupanya juga menjadi pilihan para presiden di Indonesia lainnya, sebut saja BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri.

Namun kali ini adalah Marcedes-Benz S600.

Mobil buatan Jerman ini dipilih karena dianggap memiliki standar keamanan yang tinggi.

4.Tunggangan SBY Tak Kalah Dengan Obama

4

Marcedes-Benz S600L model W221 menjadi tunggangan resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama menjabat satu dekade.

Kendaraan ini diklaim tak kalah canggih dengan kendaraan dinas yang ditunggangi Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Barack Obama, Cadilac One saat itu. Di mana mobil ini dilapisi dengan baja dengan tingkat resistensi Eropa B6/B7.

Tak cukup sampai di situ, mobil ini juga tahan terhadap senjata militer standar dan dilengkapi dengan perlindungan terhadap fragmen yang muncul dari granat tangan, serta bahan peledak lainnya.

5.Mobil Jokowi, Mercy Super Canggih yang Mengalami Mogok

5

Kendaraan dinas yang digunakan Presiden Joko Widodo saat ini merupakan mobil warisan dari SBY, yakni Marcedes-Benz S600 Pullman Guard Limousine.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, mobil ini mempunyai standar keamanan tinggi, dan juga dilengkapi fasilitas canggih seperti ban run-flat, bahan bakar dan sistem pemadam kebakaran otomatis, sistem jendela canggih dan panic alarm sistem tambahan.

Namun rupanya fasilitas canggih yang dimiliki mobil yang dapat melaju hingga 201 km per jam itu tak menjamin kondisi mobil tersebut.

Buktinya, saat Jokowi melakukan kunjungan kerja ke wilayah Kalimantan Barat, mobil tersebut mogok di tengah jalan.

Namun pihak istana memastikan bahwa kondisi mobil itu dalam kondisi baik.
Sementara mogoknya mobil itu mungkin karena faktor usia mobil yang sudah memasuki tahun ke-10.| ferd

Follow Ferd on Twitter 

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump

 

Should restaurant owners refuse service based on political ideologies?

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump

On July 1, 2015, Mark Henegan put up a poster of Donald Trump outside his restaurant Madiba, in Fort Greene, Brooklyn. Below the image of America’s most tan and polarizing figure, a statement read in bold white text: “This is a toupe free [sic] zone. Donald Trump is banned from Madiba restaurant.”

Henegan, the executive chef and owner of the South African restaurant, is well-versed in blending politics with running a business. Madiba itself is a nickname for South Africa’s former president Nelson Mandela, and Henegan has previously held parties celebrating Obama’s campaign victories. Both political figures promoted the social ideals and virtues that Henegan shares, and he believes it’s an obligation to use his business as a vehicle to promote his political views. For Henegan, this entails informing current guests of Trump’s agenda, as well as hoping to encourage a form of political camaraderie among his customers.

“People need to know that we cannot support or live in a country that has a guy [running for President] that says terrible things about women, about gay people, about Muslims,” said Henegan, an immigrant from South Africa whose family fled racism and apartheid. “The guy is not what I came to this country for.”

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump1

Signage at Madiba restaurant in Brooklyn. Photo: Facebook

Over the course of the current election cycle, things have begun to heat up in the restaurant industry. Despite the fact that many business owners tend to separate work from politics, restaurateurs like Cleveland’s Michael SymonGreg Martin of Minneapolis’ Urban Bean Coffee, and Jeff Ruby of Jeff Ruby Steakhouse in Louisville, Kentucky, have all banned Donald Trump from eating at their venues. Ruby eventually revoked his Trump ban after receiving a death threat from Trump supporters, while Martin recently expanded the ban to include Trump supporters, as well. Other dining establishments, largely thanks to media coverage and their owners’ public statements, have found themselves swept up by the hairy partisan whirlwind. Around the nation, a number of restaurants have become hotbeds for political tension.

Restaurant owners and executives admittedly have a longstanding history of engaging in politics, albeit in more nuanced manners. As Eater reported earlier this year, several presidential candidates have received monetary or “in-kind” donations (like catering services) from both restaurant owners and restaurant chains’ political action committees. “The restaurant association or individual restaurant companies, whether they’re public or private, get heavily involved in politics,” said Warren Ellish, president and CEO of restaurant consultant firm Ellish Marketing Group. “Not necessarily for one party or another, but they try to support candidates that are pro-business and pro-restaurant.”

Henegan of Madiba took political action in a less subtle manner than simply donating his food or money; still, he says he was implementing his own philosophy of “what’s good for business” when announcing his restaurant’s ban. For him, Madiba’s kitchen staff, largely undocumented immigrants from Mexico, felt the sharp burn of Trump’s insults denigrating Mexican citizens and calling to build a wall between the States and Mexico.

“A very high percentage of the people who come in on a regular basis are going to support what we said.”

“He talked badly about Mexicans. They’re the backbone of the restaurant industry, and they were really hurt,” Henegan said, referring to both his own restaurant’s employees as well as others’. He isn’t too concerned about losing his longstanding customer base over this act of political protest. According to Henegan, he couldn’t imagine someone being racist in Fort Greene, and as a result, he carries out these statements “for fun” and “to bring awareness.”

Although New York City is known for its citizens’ political outspokenness, this same debate has erupted at businesses across the country. In Minneapolis, Greg Martin’s Urban Bean Coffee micro-franchise announced in mid-June that Trump, as well as Trump supporters, were banned from patronizing either of the brand’s two locations. “I don’t know that it’s even that controversial,” Martin told local magazine City Pagesshortly after announcing the ban, suggesting that most of his customer base agrees with his sentiment. “We’re an independent coffee shop,” Martin said at the time. “A very high percentage of the people who come in on a regular basis are going to support what we said.”

In the case of Urban Bean (and other restaurants with similar bans), one is left to speculate how employees detect Trump supporters — although individuals garbed in any Trump apparel bearing his infamous “Make America Great Again” campaign slogan are probably easy pickings. This was the case this past June in Colonial Heights, Virginia, when employees at the local fast-food chain Cook Out refused to serve two supporters dressed in pro-Trump attire. (After the incident took place, Cook Out’s management told local CBS affiliate WTVR that “the situation has been resolved and was resolved that night per Cook Out policy.”)

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump2

Some establishments have gone so far as to ban Trump supporters. Photo: Kena Betancur/AFP/Getty Images

Several angry Trump supporters have compared this refusal of service to a discrimination lawsuit filed last year by a Portland, Oregon gay couple when a local bakery refused to bake their wedding cake. Nasir Pasha, a lawyer at Pasha Law, a legal firm specializing in business protection, explained that while refusing service to an individual based on their sexual orientation can result in a lawsuit in some states, political ideologies are much less likely to hold any weight. The reason for this differentiation lies in what is considered a “protected class,” or a characteristic against which it is illegal to discriminate. Well-known protected classes include race, color, age, national origin, sex, religion, disability status, and citizenship.

Pasha explained that states, however, are allowed to create their own protected classes like sexual orientation — this is the case in California and Oregon — and that whichever law provides more protection is the one that will be used. A person’s political beliefs, on the other hand, are rarely given this sort of status. Washington, DC, the epicenter of America’s political forays, is one of the few areas where political affiliation is in fact a protected class.

A person’s political beliefs are rarely given protected-class status under anti-discrimination laws.

Still, Pasha said, lawyers can find a way to bring such a lawsuit forward. “If Obama was running, and you’re banning Obama supporters, and all of the sudden statistics show that you’re routinely refusing service to black males, or black women… you can see that also poses a problem,” Pasha said, describing how easily barring a particular group of political supporters could intentionally or unintentionally lead to discrimination. “You can ban Obama supporters, but if it has that effect [of infringing upon a protected class], then you still end up border-lining into an illegal act.” That anti-discrimination protection would extend to supporters of any race.

While the ban is technically legal and morally questionable, in the court of public opinion, several online social media users have proven themselves divided in their posts and comments. Urban Bean Coffee’s official Facebook and Instagram accounts have become a breeding ground for mudslinging political banter. Over the past two weeks, both visitors and account moderators have left posts noting their two cents. Urban Bean has stoked the fiery tension by posting articles and photos denouncing Trump, while individuals from both inside and outside the Twin Cities area have posted both positive and negative opinions regarding the ban. Social psychologist Regina Tuma told Eater last year that the spike in traffic on the café’s social media pages like Facebook and Yelp are in themselves acts of protest. As such, attention towards the coffee shop has not yet completely ceased.

(Martin of Urban Bean declined to speak with Eater for this article, directing it to a press release posted on its Facebook page on June 23: “Months after banning The Donald from it’s [sic] Minneapolis stores Urban Bean instructed [Trump] supporters not to like or follow the shop on social media. Urban Bean has always focused on the community. Urban Bean seeks to create a community free from the hate and bigotry that has been a mainstay in the media through this election.”)

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump3

Urban Bean coffee, where commenters have overtaken the business’ Facebook page after it announced a ban on Trump supporters. Photo: Facebook

Despite a huge spike in partisan tensions following Urban Bean’s ban, there’s the silver lining that many local residents who had no idea the coffee shop existed at least now know the name. “Even bad publicity, in many cases, can be good publicity depending on how you deal with it,” Ellish said. “So I do think sometimes people are looking for publicity, and when there’s something that they could latch onto that allows them to get publicity, they will do that.”

Of course, not every restaurant noted in the media for their Trump reactions intended for their business to become a political flame war. Still, many have benefited from the aforementioned fact that any publicity can be good.

He noted that the people attacking his business are “a really loud minority, and they can be influential.”

Earlier this March, Betty Rivas, co-owner of Sammy’s Mexican Grill in Catalina, Arizona, attended a Trump rally in Tucson while holding a sign that said “Latinas Support D. Trump.” (Rivas actually was on the fence in terms of politicians she’d support and had attended a Bernie Sanders rally earlier that week.) Trump brought the entrepreneur onstage, where Rivas informed the public of her restaurant back in Catalina. Immediately after the rally, she began receiving slanderous Yelp reviews from seemingly anti-Trump individuals nowhere near her business. At the same time, however, people in the pro-Trump camps lauded Rivas’ decision to speak and even drove miles out of their way to support the restaurant.

Dan Ouellette, a resident of the nearby town of Casa Grande, Arizona, heard the news, read the Yelp reviews, and visited the establishment soon after “to see what all the BS is about,” he wrote in his own subsequent Yelp review. To his surprise, Sammy’s had a jam-packed crowd with a line out the door around late-lunch time. Although Ouellette enjoyed his meal, the Casa Grande native admitted he isn’t a huge fan of entrepreneurs mixing politics with business.

“As far as businesses, restaurants, movie stars, anyone like that, I think they need to keep their opinion to themselves,” Ouellette said. “I mean, when you’re thinking about a business… that’s an individual’s opinion. Yeah, they are the owner and they’re entitled to their opinion, but I dunno, it’s a fine line.”

Although negative press can be turned into positive, in this vitriolic political environment, even a sign that can be misinterpreted as partisanship can lead to a decrease in customers visiting the business. Chef/owner Walter Jahncke of Northside Cafe in Winterset, Iowa, decided to include a “Trump Burger” on his menu in light of the Republican candidate’s short visit to Winterset this past January. While Jenkins thought the burger was a fun, middle-of-the-road stance towards the presidential candidate and would be an easy way to capture some extra business, locals saw the move differently.

“We started to pick up some chatter on [the community online forum] all about the Trump thing, and I think we probably lost some local business, maybe 10 to 20 people,” Jenkins said. Although it was not a significant loss, he noted that the people attacking his business are “a really loud minority, and they can be influential.”

Like several of his fellow anti-Trump restaurateurs, Henegan shows no sign in backing down on the sentiment in his restaurant. He cheekily noted that in opposition to Trump’s “Make America Great Again” hats, his restaurant’s staff flaunts baseball caps reading “FUCK TRUMP.” For him, there’s no such thing as separating the restaurant business from politics. “I think it’s important, whatever you’re doing in life, to be political,” Henegan said. “It’s important to be socially aware and socially active. Because if we’re not political and we’re not voting, and we’re not out there, it affects our lives.” | ferd

Follow Ferd on Twitter  
source

Tips Aman Beli Tiket Pesawat Online

 

Seiring dengan kemajuan teknologi, kini hampir semua kegiatan bisa dilakukan dengan bantuan internet. Mulai dari membayar tagihan air, membeli baju, peralatan rumah hingga membeli tiket pesawat.

Karena tingginya kebutuhan masyarakat untuk bepergian dengan pesawat terbang, kini ada banyak agen travel online yang menyediakan tiket pesawat murah.

Namun, hal ini juga menuntut kamu lebih hati-hati dan waspada saat harus beli tiket pesawat online. Ada banyak penjahat cyber yang siap melakukan banyak hal untuk menipu kamu.

Agar tak sampai tertipu dan bisa mendapatkan tiket pesawat murah secara online, berikut ini ada tips aman beli tiket pesawat online yang bisa jadi panduan.

1

  1. Beli di Website Terpercaya

Saat ini, ada banyak sekali agen travel online yang menjual tiket pesawat ke berbagai destinasi. Pastikan hanya beli di website yang terpercaya dan sudah dikenal luas, seperti Pergi.com. Sebagai bagian dari Kapanlagi Network, dijamin Pergi.com tempat yang aman untuk membeli tiket pesawat.

2

  1. Cari Review di Internet

Untuk memastikan apakah agen travel online tersebut terpercaya atau tidak, kamu bisa mencari review dari orang – orang yang sudah pernah membeli tiket pesawat di website tersebut.

3

  1. Harga Tiket Wajar

Harga yang wajar disini adalah harga rata – rata untuk rute yang diinginkan. Misalnya tiket Jakarta – Denpasar biasa berkisar di angka Rp 500.000 – Rp 600.000 untuk sekali jalan.

Jika ada agen travel online yang menjual di bawah harga tersebut, kamu patut waspada jika tetap ingin membeli tiket di website tersebut. Jangan sampai terpancing gimmick harga murah!

Lain lagi halnya jika website tersebut menawarkan berbagai promo untuk membuat tiket semakin murah, misalnya potongan hingga Rp 99.999 dari promo Book Now or Never di Pergi.com.

4

  1. Pilihan Pembayaran Bervariasi

Agen travel online terpercaya biasanya memiliki banyak pilihan pembayaran untuk memudahkan kamu untuk membayar tiket. Mulai dari transfer ATM hingga pembayaran melalui kartu kredit

5

  1. Support yang Memadai

Perhatikan bagian customer service yang siap membantu kamu jika ada kesulitan atau masalah saat proses booking. Agen travel online terpercaya biasanya mencantumkan nomor telepon dan jam operasional yang jelas, bahkan juga disertai chat box yang memudahkan kamu bertanya mengenai proses pembelian tiket di web tersebut.

Kini membeli tiket pesawat jauh lebih mudah dan nyaman dengan kehadiran agen travel online. Namun kamu harus tetap waspada sebelum membeli tiket pesawat online agar tidak menjadi korban penipuan. adv | ferd

source

Negara Adidaya ini dulu pernah kuasai dunia tapi kini hancur karena perang

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di dunia ini ada beberapa negara adidaya yang dulu pernah kuasai dunia tapi hancur karena perang. Beberapa negara adidaya ini menjadi negara yang paling berpengaruh dalam peta politik dunia.

Negera tersebut pernah meraih kejayaan dalam memenangkan perang. Sejumlah peristiwa – peristiwa perang dan penjajahan pun menjadi cerita sejarah di negara tersebut.

Ada 7 negara Adidaya yang ternyata dulu pernah menjadi penguasa dunia tapi hancur karena perang.

1

  1. Makedonia

Makedonia menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa dunia. Peristiwa sejarah di negara ini dipengaruhi oleh seorang pria bernama Alexander Agung atau Iskandar Agung. Kedua negara ini memerintah Makedonia dengan tangan besi.

Makedonia sempat menjadi negara yang paling ditakuti dimana mereka berhasil menaklukan banyak bangsa-bangsa mulai dari Yunani Persia, Babiloniam Arab, Mesir Asyura hingga India.

Sayangnya sepeninggal Alexander pada 322 SM, Makedonia yang dulunya merajai Eropa harus terpecah menjadi 4 kerajaan. Saat ini Makedonia menjadi nama dari sebuah negara repulik kecil.

2

  1. Persia

Persia menjadi sebuah negara penguasa di jaman kerajaan Mansyur. Ketika itu Persia berhasil menguasai seluruh wilayah Timur Tengah bahkan hingga Eropa.

Di bawah pimpinan Kaisar Akhemeniyah, Persia menjadi negara super yang ditakuti karena berhasil menaklukan Pakistan, Semenanjug Anatolia, Makedonia, Tracia, Afganistan, Jasirah Arab, Libya, Ethiopia, Mesir kuno hingga India Barat.

Namun sayangnya , kejayaan Persia nggak bertahan lama, hingga akhirnya Persia runtuh akibat serangan Aleksander Agung dari Makedonia.

3

  1. Romawi

Romawi menjadi kekaisaran super di Eropa dan berpusat di Kota Roma. Di masa jayanya Romawi berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Eropa bahkan hingga ke perbatasan Tiongkok (konon 21% populasi dunia takluk di bawah kekuasaan Romawi).

Salah satu bukti pengaruh mereka masih ada sampai saat ini yaitu kalender mereka yang diwariskan kepada dunia sampai sekarang. Kekaisaran ini bertahan selama 2205 tahun dan seiring berjalannya waktu kekaisaran ini terpecah menjadi Romawi Barat dan Timur.

Romawi Barat harus runtuh pada 476 M, sedangkan Romawi Timur baru runtuh pada 1453, saat Konstatinopel dikuasai oleh kekaisaran Ottoman.

4

  1. Khalifah Abbasiyah

Khalifah Abbasiyah juga menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa. Di Abad 8 hingga 13 jazirah Arab dikuasai oleh kekhalifahan Abbasiyah. Saati itu Abbasiyah menjadi negara adidaya dengan pengetahun mereka di bidang ilmu pengetahuan seperti matematika dan kimia.

Khalifah Abbasiyah sendiri terletak di Mesapotamia (Irak) tepatnya kota Baghdad. Puncak kejayaan negara ini terjadi di bawah Khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (760-809M) serta putranya, al Ma’mun (813-833 M).

Namun pada akhirnya , Kekhalifahan ini mengalami kemunduran semenjak terlibat dalam perang Salib untuk memperebutkan kota suci Yerusalem.

5

  1. Mongol

Mongol adalah negara tandus yang dikenal sebagai bangsa penakluk yang handal. Mongol pernah menjadi penguasa karena berhasil mengalahkan Tiongkok yang ketika itu menjadi kekaisaran yang jauh lebih tua dari Mongol pada abad ke-13.

Bahkan seiring berjalannya waktu , Mongolia berhasil memperluas wilayahnya hingga ke Korea, Siberia, Persia bahkan sebagian wilayah Eropa Timur.

Namun pada akhirnya , Kubilai Khan Mongolia mengalami kemunduran dan harus takluk kepada Tiongkok pada aba ke-17 di bawah Dinasti Qing.

Liman von Sanders mit türkischen Offizieren Otto Liman von Sanders, General der Kavallerie, türkischer Marschall geb: 17.2.1855 in Stolp, gest: 22.8.1929 in München. U.B.z. Marschall Liman von Sanders mit türkischen Offizieren. 1. Suleinam Noumann-Pascha, Chef des Sanitätswesens. 2. Essad-Pascha. Kommandant der Nordgruppe. 3. Marschall Liman von Sanders. 4. Wehib-Pascha, Führer einer Armee. 5. Kiasim-Bei, türkischer Chef des Generalstabs einer Armee.
  1. Ottoman

Setelah berhasil merebut Konstatinopel pada 1453, Kesultanan Ottoman ditakuti oleh banyak negara. Di bawah pimpinan Sulaiman I, Ottoman berhasil mencaplok beberapa wilayah Eropa Timur, Semenanjung Arab hingga Afrika Utara.

Namun, kejayaan Ottoman harus segera berakhir setelah kekalahannya pada Perang Dunia I pada tahun 1923. Imperium Ottoman pun bubar dan sisanya menjadi negara baru yang saat ini kita kenal sebagai Republik Turki.

7

  1. Uni Soviet

Uni Soviet juga menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa. Uni Soviet berjaya pada Oktober 1917. Semasa Perang Dunia II Uni Soviet menunjukan kekuatannya dan berhasil memenangkan perang Amerika.

Namun karena adanya perang dingin dengan Amerika Serikat dan gejolak internal di dalam negara membuat Uni Soviet pecah dan bubar. | ferd

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan

Penyu belimbing adalah penyu terbesar di dunia. Makhluk yang unik ini sangat mungil dan menggemaskan saat baru lahir, tetapi menjadi monster yang bobotnya bisa mencapai 800-900 kg setelah dewasa.

Dari penampilannya, penyu belimbing ini tampak jinak seperti penyu lainnya, tapi dibalik penampilannya yang tampak lembut itu, anda akan menemukan sebuah senjata yang mengerikan di sekeliling mulutnya ketika mereka membuka moncongnya.

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan2

Ukuran penyu belimbing bisa sebesar itu, karena mereka melahap banyak ubur-ubur yang bergerak lambat.

Kadang-kadang, penyu ini bisa menghabiskan 73% makanan yang setara dengan bobotnya sendiri, atau setara dengan 16.000 kalori, lebih tinggi 3 – 7 kali dari hidup yang dibutuhkannya.

Itulah sebabnya mengapa penyu belimbing membutuhkan gigi yang tajam. Gigi memberi keuntungan evolusioner padanya. Giginya yang tajam, dengan bentuk yang melengkung dan lurus dalam mulutnya itu dapat mencegah ubur-ubur melarikan diri.

Ini juga berarti penyu belimbing dapat melahap berbagai jenis ubur-ubur, termasuk ubur-ubur seukuran lebah atau singa.

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan3

Padahal itu bukanlah gigi yang sebenarnya, melainkan papila yaitu tonjolan-tonjolan pada selaput dalam mulut yang berfungsi seperti gigi bagi penyu saat makan.

Meskipun penyu memiliki sistem pencernaan yang baik, tetapi mereka tidak bisa membedakan antara ubur-ubur dan sampah plastik yang mengambang di permukaan.

Ini adalah kekhawatiran terbesar penyu belimbing menghadapi kepunahan, dan kita perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi mereka dari ancaman kepunahan. | ferd

5 Pulau di Indonesia yang Terancam Akan Tenggelam

 

 

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah kepulauan begitu banyak, menurut data yang bisa dilihat di Wikipedia, ada lebih dari 17.000 pulau di Indonesia. Mulai dari pulau-pulau besar dan juga pulau kecil yang terbentang dari ujung Sumatra hingga Papua.

Tetapi sebagai negara kepulauan, Indonesia sebenarnya dibayangin dan terancam oleh naiknya air laut yang setiap waktunya terus bertambah. Hal ini akan berdampak pada beberapa kepuluan di Indonesia yang akan tenggelam di tahun-tahun mendatang.

Inilah 5 daftar pulau di Indonesia yang terancam tenggelam di masa yang akan datang.

  1. Pulau Kelor

Pulau Kelor

Pulau Kelor termasuk dalam gugusan kepulauan seribu, Jakarta, yang diprediksi dalam 40 tahun mendatang akan tenggelam. Luas pulau ini pada tahun 1980 adalah satu setengah hektar, namun saat ini luas Pulau Kelor hanya tersisa satu hektar saja. Abrasi dan pemanasan global menjadi penyebab utama dari terkikisnya luas pulau ini.

  1. Pulau Sentut

Pulau Sentut

Pulau Sentut merupakan pulau terluar di Indonesia yang terletak di perairan laut China Selatan dan diantara perbatasan Indonesia dengan Malaysia, tepatnya kabupaten Bintan, provinsi Kepulauan Riau. Luas pulau ini tidak sampai 2 hektar, namun saat ini luas dan ketinggiannya semakin berkurang karena abrasi dan penambangan bauksit (biji utama aluminium). Meski tidak berpenghuni, Pulau Sentut sering dijadikan sebagai tempat transit oleh TKI ilegal yang akan ke Malaysia.

  1. Pulau Padang

Pulau Padang

Pulau Padang yang berada di provinsi Riau ini terancam tenggelam akibat pembukaan hutan lahan gambut yang terus-menerus dilakukan. Padahal rawa gambut yang dihilangkan dari Pulau Padang merupakan benteng utama pulau di pesisir dari ancaman abrasi dan meningkatnya permukaan laut.

  1. Pulau Tembora

Pulau Tembora

Pulau Tembora di wilayah Riau dengan luas 200 hektar ini terancam tenggelam akibat aktifitas penambangan bauksit. Jika tidak dilakukan penambangan, sebenarnya pulau ini memiliki luas yang jauh lebih besar. Namun kini garis terluar dari Pulau Tembora sebenarnya masih terlihat, tapi sudah berada di bawah air.

  1. Pulau Bali

Pulau Bali

Pulau Bali diperkirakan tenggelam akibat proyeksi curah hujan jangka panjang yang meningkat. Hal ini menyebabkan curah hujan bertambah sebesar setiap lima tahun. Luas Pulau Bali saat ini 5632 km persegi, namun pada tahun 2050 diperkirakan akan terendam seluas 489 km. persegi, itupun akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Akibat lainnya yang muncul yaitu terpisahnya Pulau Bali menjadi dua sisi.

Itulah daftar 5 pulau di Indonesia yang terancam tenggelam. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang sudah pasti menghadapi ancaman nyata terhadap naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global. Bahkan diperkirakan masih banyak lagi pulau-pulau lainnya yang juga ikut tenggelam nantinya.| ferd

Follow Ferd on Twitter