Fakta Mobil Kepresidenan Indonesia Mulai dari Soekarno Hingga Jokowi

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Setiap presiden tentu mempunyai cerita tersendiri mengenai kendaraan dinas yang digunakan selama menjabat sebagai pemimpin negara.

Seperti Presiden Joko Widodo misalnya, yang belum lama ini mobilnya mengalami kemogokan saat berkunjung ke Kalimantan Barat.

Terlepas dari peristiwa itu, fakta mengenai kendaraan yang pernah digunakan para presiden RI pun terkuak.

Berikut ini adalah 5 fakta mobil kepresidenan Indonesia yang dimulai dari presiden pertama, Soekarno hingga presiden yang sekarang, Joko Widodo.

1.Rampasan Perang Jadi Kendaraan Bung Karno

1

Semenjak ditetapkan menjadi Presiden pertama RI, Soekarno sudah mempunyai sejumlah mobil favorit untuk menunjang mobilitasnya sebagai presiden pertama Indonesia. Salah satunya adalah mobil jenis sedang Buick-8.

Mobil sedang Buick-8 ini bisa dibilang ‘unlimited’, karena hanya diproduksi sebanyak 1.415 unit di dunia.

Mobil ini dikemas dengan mesin berkapasitas 5,2 liter.

Namun sebelum mobil ini resmi digunakan sebagai kendaraan dinas Presiden Soekarno, mobil ini menyimpan cerita yang unik.

Ternyata, mobil yang ditemukan pada tahun 1945 di belakang kantor Departemen Perhubungan ini adalah hasil rampasan dari penjajah Jepang. Singkat cerita, Soekarno pun kemudian membujuk sopir mobil tersebut pulang ke kampungnya di Kebumen dan meminta kunci lalu mempersembahkannya kepada Presiden Soekarno sebagai kendaraan dinas.

Oleh Soekarno, mobil itu kemudian diberi pelat nomor kepresidenan Rep-1.

2.Mobil Soeharto, yang Setara Dengan Tunggangan Ratu Elizabeth

2

Sama seperti dengan Presiden Soekarno, Presiden Soeharto juga sempat beberapa kali mengganti mobil dinasnya. Namun dari sekian jenis mobil yang pernah ditunggangi, ada satu diantaranya yang dilengkapi dengan teknologi canggih.

Adalah Marcedes-Benz 500SEL.

Mobil yang diluncurkan pada 1987 itu diklaim memiliki kesamaan spesifikasi keamanan setara dengan mobil dinas Bill Clinton dan Ratu Elizabeth II.

Marcedes-Benz 500SEL tunggangan Soeharto memiliki tipe mesin M117.963, yang dilengkapi dengan delapan silinder berkapasitas 5.0L, kaca anti peluru setebal tiga inci, serta dilapisi baja dan platina hitam yang tahan terhadap serangan peluru, mortir dan juga guncangan.

3.Dinasti Mercy S600 Dipakai 4 Presiden

3

Selepas Presiden Soeharto, kendaran dinas dengan merk Marcedes-Benz rupanya juga menjadi pilihan para presiden di Indonesia lainnya, sebut saja BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, dan Megawati Soekarnoputri.

Namun kali ini adalah Marcedes-Benz S600.

Mobil buatan Jerman ini dipilih karena dianggap memiliki standar keamanan yang tinggi.

4.Tunggangan SBY Tak Kalah Dengan Obama

4

Marcedes-Benz S600L model W221 menjadi tunggangan resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama menjabat satu dekade.

Kendaraan ini diklaim tak kalah canggih dengan kendaraan dinas yang ditunggangi Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Barack Obama, Cadilac One saat itu. Di mana mobil ini dilapisi dengan baja dengan tingkat resistensi Eropa B6/B7.

Tak cukup sampai di situ, mobil ini juga tahan terhadap senjata militer standar dan dilengkapi dengan perlindungan terhadap fragmen yang muncul dari granat tangan, serta bahan peledak lainnya.

5.Mobil Jokowi, Mercy Super Canggih yang Mengalami Mogok

5

Kendaraan dinas yang digunakan Presiden Joko Widodo saat ini merupakan mobil warisan dari SBY, yakni Marcedes-Benz S600 Pullman Guard Limousine.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, mobil ini mempunyai standar keamanan tinggi, dan juga dilengkapi fasilitas canggih seperti ban run-flat, bahan bakar dan sistem pemadam kebakaran otomatis, sistem jendela canggih dan panic alarm sistem tambahan.

Namun rupanya fasilitas canggih yang dimiliki mobil yang dapat melaju hingga 201 km per jam itu tak menjamin kondisi mobil tersebut.

Buktinya, saat Jokowi melakukan kunjungan kerja ke wilayah Kalimantan Barat, mobil tersebut mogok di tengah jalan.

Namun pihak istana memastikan bahwa kondisi mobil itu dalam kondisi baik.
Sementara mogoknya mobil itu mungkin karena faktor usia mobil yang sudah memasuki tahun ke-10.| ferd

Follow Ferd on Twitter 

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump

 

Should restaurant owners refuse service based on political ideologies?

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump

On July 1, 2015, Mark Henegan put up a poster of Donald Trump outside his restaurant Madiba, in Fort Greene, Brooklyn. Below the image of America’s most tan and polarizing figure, a statement read in bold white text: “This is a toupe free [sic] zone. Donald Trump is banned from Madiba restaurant.”

Henegan, the executive chef and owner of the South African restaurant, is well-versed in blending politics with running a business. Madiba itself is a nickname for South Africa’s former president Nelson Mandela, and Henegan has previously held parties celebrating Obama’s campaign victories. Both political figures promoted the social ideals and virtues that Henegan shares, and he believes it’s an obligation to use his business as a vehicle to promote his political views. For Henegan, this entails informing current guests of Trump’s agenda, as well as hoping to encourage a form of political camaraderie among his customers.

“People need to know that we cannot support or live in a country that has a guy [running for President] that says terrible things about women, about gay people, about Muslims,” said Henegan, an immigrant from South Africa whose family fled racism and apartheid. “The guy is not what I came to this country for.”

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump1

Signage at Madiba restaurant in Brooklyn. Photo: Facebook

Over the course of the current election cycle, things have begun to heat up in the restaurant industry. Despite the fact that many business owners tend to separate work from politics, restaurateurs like Cleveland’s Michael SymonGreg Martin of Minneapolis’ Urban Bean Coffee, and Jeff Ruby of Jeff Ruby Steakhouse in Louisville, Kentucky, have all banned Donald Trump from eating at their venues. Ruby eventually revoked his Trump ban after receiving a death threat from Trump supporters, while Martin recently expanded the ban to include Trump supporters, as well. Other dining establishments, largely thanks to media coverage and their owners’ public statements, have found themselves swept up by the hairy partisan whirlwind. Around the nation, a number of restaurants have become hotbeds for political tension.

Restaurant owners and executives admittedly have a longstanding history of engaging in politics, albeit in more nuanced manners. As Eater reported earlier this year, several presidential candidates have received monetary or “in-kind” donations (like catering services) from both restaurant owners and restaurant chains’ political action committees. “The restaurant association or individual restaurant companies, whether they’re public or private, get heavily involved in politics,” said Warren Ellish, president and CEO of restaurant consultant firm Ellish Marketing Group. “Not necessarily for one party or another, but they try to support candidates that are pro-business and pro-restaurant.”

Henegan of Madiba took political action in a less subtle manner than simply donating his food or money; still, he says he was implementing his own philosophy of “what’s good for business” when announcing his restaurant’s ban. For him, Madiba’s kitchen staff, largely undocumented immigrants from Mexico, felt the sharp burn of Trump’s insults denigrating Mexican citizens and calling to build a wall between the States and Mexico.

“A very high percentage of the people who come in on a regular basis are going to support what we said.”

“He talked badly about Mexicans. They’re the backbone of the restaurant industry, and they were really hurt,” Henegan said, referring to both his own restaurant’s employees as well as others’. He isn’t too concerned about losing his longstanding customer base over this act of political protest. According to Henegan, he couldn’t imagine someone being racist in Fort Greene, and as a result, he carries out these statements “for fun” and “to bring awareness.”

Although New York City is known for its citizens’ political outspokenness, this same debate has erupted at businesses across the country. In Minneapolis, Greg Martin’s Urban Bean Coffee micro-franchise announced in mid-June that Trump, as well as Trump supporters, were banned from patronizing either of the brand’s two locations. “I don’t know that it’s even that controversial,” Martin told local magazine City Pagesshortly after announcing the ban, suggesting that most of his customer base agrees with his sentiment. “We’re an independent coffee shop,” Martin said at the time. “A very high percentage of the people who come in on a regular basis are going to support what we said.”

In the case of Urban Bean (and other restaurants with similar bans), one is left to speculate how employees detect Trump supporters — although individuals garbed in any Trump apparel bearing his infamous “Make America Great Again” campaign slogan are probably easy pickings. This was the case this past June in Colonial Heights, Virginia, when employees at the local fast-food chain Cook Out refused to serve two supporters dressed in pro-Trump attire. (After the incident took place, Cook Out’s management told local CBS affiliate WTVR that “the situation has been resolved and was resolved that night per Cook Out policy.”)

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump2

Some establishments have gone so far as to ban Trump supporters. Photo: Kena Betancur/AFP/Getty Images

Several angry Trump supporters have compared this refusal of service to a discrimination lawsuit filed last year by a Portland, Oregon gay couple when a local bakery refused to bake their wedding cake. Nasir Pasha, a lawyer at Pasha Law, a legal firm specializing in business protection, explained that while refusing service to an individual based on their sexual orientation can result in a lawsuit in some states, political ideologies are much less likely to hold any weight. The reason for this differentiation lies in what is considered a “protected class,” or a characteristic against which it is illegal to discriminate. Well-known protected classes include race, color, age, national origin, sex, religion, disability status, and citizenship.

Pasha explained that states, however, are allowed to create their own protected classes like sexual orientation — this is the case in California and Oregon — and that whichever law provides more protection is the one that will be used. A person’s political beliefs, on the other hand, are rarely given this sort of status. Washington, DC, the epicenter of America’s political forays, is one of the few areas where political affiliation is in fact a protected class.

A person’s political beliefs are rarely given protected-class status under anti-discrimination laws.

Still, Pasha said, lawyers can find a way to bring such a lawsuit forward. “If Obama was running, and you’re banning Obama supporters, and all of the sudden statistics show that you’re routinely refusing service to black males, or black women… you can see that also poses a problem,” Pasha said, describing how easily barring a particular group of political supporters could intentionally or unintentionally lead to discrimination. “You can ban Obama supporters, but if it has that effect [of infringing upon a protected class], then you still end up border-lining into an illegal act.” That anti-discrimination protection would extend to supporters of any race.

While the ban is technically legal and morally questionable, in the court of public opinion, several online social media users have proven themselves divided in their posts and comments. Urban Bean Coffee’s official Facebook and Instagram accounts have become a breeding ground for mudslinging political banter. Over the past two weeks, both visitors and account moderators have left posts noting their two cents. Urban Bean has stoked the fiery tension by posting articles and photos denouncing Trump, while individuals from both inside and outside the Twin Cities area have posted both positive and negative opinions regarding the ban. Social psychologist Regina Tuma told Eater last year that the spike in traffic on the café’s social media pages like Facebook and Yelp are in themselves acts of protest. As such, attention towards the coffee shop has not yet completely ceased.

(Martin of Urban Bean declined to speak with Eater for this article, directing it to a press release posted on its Facebook page on June 23: “Months after banning The Donald from it’s [sic] Minneapolis stores Urban Bean instructed [Trump] supporters not to like or follow the shop on social media. Urban Bean has always focused on the community. Urban Bean seeks to create a community free from the hate and bigotry that has been a mainstay in the media through this election.”)

The Politics (and PR) of Restaurants Banning Donald Trump3

Urban Bean coffee, where commenters have overtaken the business’ Facebook page after it announced a ban on Trump supporters. Photo: Facebook

Despite a huge spike in partisan tensions following Urban Bean’s ban, there’s the silver lining that many local residents who had no idea the coffee shop existed at least now know the name. “Even bad publicity, in many cases, can be good publicity depending on how you deal with it,” Ellish said. “So I do think sometimes people are looking for publicity, and when there’s something that they could latch onto that allows them to get publicity, they will do that.”

Of course, not every restaurant noted in the media for their Trump reactions intended for their business to become a political flame war. Still, many have benefited from the aforementioned fact that any publicity can be good.

He noted that the people attacking his business are “a really loud minority, and they can be influential.”

Earlier this March, Betty Rivas, co-owner of Sammy’s Mexican Grill in Catalina, Arizona, attended a Trump rally in Tucson while holding a sign that said “Latinas Support D. Trump.” (Rivas actually was on the fence in terms of politicians she’d support and had attended a Bernie Sanders rally earlier that week.) Trump brought the entrepreneur onstage, where Rivas informed the public of her restaurant back in Catalina. Immediately after the rally, she began receiving slanderous Yelp reviews from seemingly anti-Trump individuals nowhere near her business. At the same time, however, people in the pro-Trump camps lauded Rivas’ decision to speak and even drove miles out of their way to support the restaurant.

Dan Ouellette, a resident of the nearby town of Casa Grande, Arizona, heard the news, read the Yelp reviews, and visited the establishment soon after “to see what all the BS is about,” he wrote in his own subsequent Yelp review. To his surprise, Sammy’s had a jam-packed crowd with a line out the door around late-lunch time. Although Ouellette enjoyed his meal, the Casa Grande native admitted he isn’t a huge fan of entrepreneurs mixing politics with business.

“As far as businesses, restaurants, movie stars, anyone like that, I think they need to keep their opinion to themselves,” Ouellette said. “I mean, when you’re thinking about a business… that’s an individual’s opinion. Yeah, they are the owner and they’re entitled to their opinion, but I dunno, it’s a fine line.”

Although negative press can be turned into positive, in this vitriolic political environment, even a sign that can be misinterpreted as partisanship can lead to a decrease in customers visiting the business. Chef/owner Walter Jahncke of Northside Cafe in Winterset, Iowa, decided to include a “Trump Burger” on his menu in light of the Republican candidate’s short visit to Winterset this past January. While Jenkins thought the burger was a fun, middle-of-the-road stance towards the presidential candidate and would be an easy way to capture some extra business, locals saw the move differently.

“We started to pick up some chatter on [the community online forum] all about the Trump thing, and I think we probably lost some local business, maybe 10 to 20 people,” Jenkins said. Although it was not a significant loss, he noted that the people attacking his business are “a really loud minority, and they can be influential.”

Like several of his fellow anti-Trump restaurateurs, Henegan shows no sign in backing down on the sentiment in his restaurant. He cheekily noted that in opposition to Trump’s “Make America Great Again” hats, his restaurant’s staff flaunts baseball caps reading “FUCK TRUMP.” For him, there’s no such thing as separating the restaurant business from politics. “I think it’s important, whatever you’re doing in life, to be political,” Henegan said. “It’s important to be socially aware and socially active. Because if we’re not political and we’re not voting, and we’re not out there, it affects our lives.” | ferd

Follow Ferd on Twitter  
source

Negara Adidaya ini dulu pernah kuasai dunia tapi kini hancur karena perang

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Di dunia ini ada beberapa negara adidaya yang dulu pernah kuasai dunia tapi hancur karena perang. Beberapa negara adidaya ini menjadi negara yang paling berpengaruh dalam peta politik dunia.

Negera tersebut pernah meraih kejayaan dalam memenangkan perang. Sejumlah peristiwa – peristiwa perang dan penjajahan pun menjadi cerita sejarah di negara tersebut.

Ada 7 negara Adidaya yang ternyata dulu pernah menjadi penguasa dunia tapi hancur karena perang.

1

  1. Makedonia

Makedonia menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa dunia. Peristiwa sejarah di negara ini dipengaruhi oleh seorang pria bernama Alexander Agung atau Iskandar Agung. Kedua negara ini memerintah Makedonia dengan tangan besi.

Makedonia sempat menjadi negara yang paling ditakuti dimana mereka berhasil menaklukan banyak bangsa-bangsa mulai dari Yunani Persia, Babiloniam Arab, Mesir Asyura hingga India.

Sayangnya sepeninggal Alexander pada 322 SM, Makedonia yang dulunya merajai Eropa harus terpecah menjadi 4 kerajaan. Saat ini Makedonia menjadi nama dari sebuah negara repulik kecil.

2

  1. Persia

Persia menjadi sebuah negara penguasa di jaman kerajaan Mansyur. Ketika itu Persia berhasil menguasai seluruh wilayah Timur Tengah bahkan hingga Eropa.

Di bawah pimpinan Kaisar Akhemeniyah, Persia menjadi negara super yang ditakuti karena berhasil menaklukan Pakistan, Semenanjug Anatolia, Makedonia, Tracia, Afganistan, Jasirah Arab, Libya, Ethiopia, Mesir kuno hingga India Barat.

Namun sayangnya , kejayaan Persia nggak bertahan lama, hingga akhirnya Persia runtuh akibat serangan Aleksander Agung dari Makedonia.

3

  1. Romawi

Romawi menjadi kekaisaran super di Eropa dan berpusat di Kota Roma. Di masa jayanya Romawi berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Eropa bahkan hingga ke perbatasan Tiongkok (konon 21% populasi dunia takluk di bawah kekuasaan Romawi).

Salah satu bukti pengaruh mereka masih ada sampai saat ini yaitu kalender mereka yang diwariskan kepada dunia sampai sekarang. Kekaisaran ini bertahan selama 2205 tahun dan seiring berjalannya waktu kekaisaran ini terpecah menjadi Romawi Barat dan Timur.

Romawi Barat harus runtuh pada 476 M, sedangkan Romawi Timur baru runtuh pada 1453, saat Konstatinopel dikuasai oleh kekaisaran Ottoman.

4

  1. Khalifah Abbasiyah

Khalifah Abbasiyah juga menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa. Di Abad 8 hingga 13 jazirah Arab dikuasai oleh kekhalifahan Abbasiyah. Saati itu Abbasiyah menjadi negara adidaya dengan pengetahun mereka di bidang ilmu pengetahuan seperti matematika dan kimia.

Khalifah Abbasiyah sendiri terletak di Mesapotamia (Irak) tepatnya kota Baghdad. Puncak kejayaan negara ini terjadi di bawah Khalifah Harun Ar-Rasyid Rahimahullah (760-809M) serta putranya, al Ma’mun (813-833 M).

Namun pada akhirnya , Kekhalifahan ini mengalami kemunduran semenjak terlibat dalam perang Salib untuk memperebutkan kota suci Yerusalem.

5

  1. Mongol

Mongol adalah negara tandus yang dikenal sebagai bangsa penakluk yang handal. Mongol pernah menjadi penguasa karena berhasil mengalahkan Tiongkok yang ketika itu menjadi kekaisaran yang jauh lebih tua dari Mongol pada abad ke-13.

Bahkan seiring berjalannya waktu , Mongolia berhasil memperluas wilayahnya hingga ke Korea, Siberia, Persia bahkan sebagian wilayah Eropa Timur.

Namun pada akhirnya , Kubilai Khan Mongolia mengalami kemunduran dan harus takluk kepada Tiongkok pada aba ke-17 di bawah Dinasti Qing.

Liman von Sanders mit türkischen Offizieren Otto Liman von Sanders, General der Kavallerie, türkischer Marschall geb: 17.2.1855 in Stolp, gest: 22.8.1929 in München. U.B.z. Marschall Liman von Sanders mit türkischen Offizieren. 1. Suleinam Noumann-Pascha, Chef des Sanitätswesens. 2. Essad-Pascha. Kommandant der Nordgruppe. 3. Marschall Liman von Sanders. 4. Wehib-Pascha, Führer einer Armee. 5. Kiasim-Bei, türkischer Chef des Generalstabs einer Armee.
  1. Ottoman

Setelah berhasil merebut Konstatinopel pada 1453, Kesultanan Ottoman ditakuti oleh banyak negara. Di bawah pimpinan Sulaiman I, Ottoman berhasil mencaplok beberapa wilayah Eropa Timur, Semenanjung Arab hingga Afrika Utara.

Namun, kejayaan Ottoman harus segera berakhir setelah kekalahannya pada Perang Dunia I pada tahun 1923. Imperium Ottoman pun bubar dan sisanya menjadi negara baru yang saat ini kita kenal sebagai Republik Turki.

7

  1. Uni Soviet

Uni Soviet juga menjadi salah satu negara yang pernah menjadi penguasa. Uni Soviet berjaya pada Oktober 1917. Semasa Perang Dunia II Uni Soviet menunjukan kekuatannya dan berhasil memenangkan perang Amerika.

Namun karena adanya perang dingin dengan Amerika Serikat dan gejolak internal di dalam negara membuat Uni Soviet pecah dan bubar. | ferd

If Politics Can’t Save Us, What Will?

Probably most confusion over Rod Dreher’s much-discussed The Benedict Option could be resolved with a careful read of the book’s subhead: “A Strategy for Christians in a Post-Christian Culture.” Not “the” strategy, but “a” strategy.

If Politics Can_t Save Us, What Will

Do you need to adopt Dreher’s Orthodox convictions about the formative effects of liturgical worship? Not necessarily, though you’ll want to consider whether worshiping in a church that looks like a mall with music that sounds like Top 40 radio helps you develop counter-cultural spiritual instincts.

Do you need to homeschool your children or start a classical school, because “it is time for all Christians to pull their children out of the public school system,” as Dreher contends? Not necessarily, but you might be inspired as you learn about the schools profiled by Dreher, senior editor and prolific blogger at The American Conservative.

No, you don’t need to agree with all the details of Dreher’s strategy, dubbed the Benedict Option in honor of Benedict of Nursia (AD 480–547), the founder of Western monasticism. But you’ll remain confused if you don’t agree that some strategy is necessary for sustainable Christian mission in an increasingly post-Christian culture.

For all the details, Dreher’s message is simple: to be for the world we need to sometimes be away from the world. How can we testify to Jesus if we lose our faith in him amid cultural pressures? “We cannot give the world what we do not have,” Dreher writes. Or, to borrow from Jesus in his Sermon on the Mount, “You are the salt of the earth, but if salt has lost its taste, how shall its saltiness be restored? It is no longer good for anything except to be thrown out and trampled under people’s feet” (Matt. 5:13).

Stand Firm

Dreher opens with his personal motivation and perspective as a parent. “Nothing changes a man’s outlook on life like having to think about the kind of world his children will inherit.” Other parents can relate. With the birth of my son I suddenly saw the need to teach him the Methodist hymns of my youth, though we no longer belong to a hymn-singing Methodist church. I wanted him to know his family’s spiritual heritage so that it’ll continue in and through him to further generations, until Jesus returns.

Parenting frames much of the book’s prescription for our culture’s ailments. In short, if we want our children to grow into sturdy faith, we must make sacrifices that show them we would rather have Jesus than the world.

“If Mom and Dad don’t stand firm and are not wiling to be thought of as peculiar by their own friends for their strictness,” Dreher writes, “then the kids don’t stand a chance.”

Christians must make immediate, drastic changes, Dreher argues. Parents too quickly say yes to their children in order to retain their fleeting affection. Why would we give our children smartphones, for example, when we would never give them a library full of ponographic videos? “This is morally insane,” Dreher says.

But strong, strict families aren’t enough, according to Dreher. The forces eroding Christian orthodoxy are too powerful for individuals and families to resist alone. “We need to embed ourselves in stable communities of faith,” Dreher says. So is the church prepared to incubate the Benedict Option? Not exactly, Dreher concedes, because too many of us “expect our religion to be comfortable.”

How did this happen? When did the church stop being the church, a ship suitable for carrying heavenly pilgrims safely through the stormy seas of doubt and disbelief?

Divided Ourselves

You needn’t agree with Dreher’s historical analysis in order to share his alarm for our moment. Dreher relies on partisan sources as he blames the Protestant Reformation for our crisis of spiritual authority. His take on medieval nominalism and William of Ockham suffers reductionism. Would we turn back the clock on medieval philosophy if nominalism gave us modern medicine but also made us reflexive idolaters? Even if we all agreed we should, we couldn’t.

Closer to our own time, Dreher presents a familiar case for culture war erupting with the sexual revolution of the 1960s. But he misses the link between the Religious Right’s rise and racist grievances—perhaps the most significant reason culture war consumed the church’s credibility. Social conservatives will wander in the cultural and political wilderness until they confront and confess their stained history on race.

Still, I side with Dreher when he declines to see the election of President Trump as a watershed victory for fellow Benedictines. Politics may have ushered in many problems, but as Dreher argues, “politics will not save us.” If anything, Dreher could have gone much further in his warning for Christians who think Trump will make the church great again.

“If conservative church leaders aren’t extraordinarily careful in how they manage their public relationship to the Trump phenomenon,” Dreher warns, “anti-Trump blowback will do severe damage to the church’s reputation.”

Just a couple months into President Trump’s tenure I’m worried about whether the church can even hold together. Wedges of racism and sexism have driven Christians apart. Dreher’s book was obviously written for a Hillary Clinton presidency, but no matter who had won, the campaign revealed how easily Christians could be manipulated on both sides to compromise their conscience for partisan ends. Now, Trump’s unstable, ambivalent leadership has turned brother against brother in a scramble for access and power. How can we witness together when we’re so divided ourselves? How are we supposed to love our neighbors—inside and outside the church—if we’re trained by politics to hate them?

Little Way

My main fear with Dreher’s book is that the people who need it most won’t read it. How do you convince Americans that replacing fast food and cable news with fasting and hard labor will be good for their souls?

Overwhelming evangelical support for Trump suggests not many conservative Christians would agree with Dreher that “losing political power might just be the thing that saves the church’s soul.” Rather, they seem to believe the American Empire needs our partisan politics in service of God’s kingdom. I’m afraid that evangelicals will continue to obsess over national politics instead of pursuing creative and communal local strategies for spiritual health and mission. Follow the example of crisis pregnancy centers, Dreher counsels:

Here’s how to get started with the antipolitical politics of the Benedict Option. Secede culturally from the maintream. Turn off the television. Put the smartphones away. Read books. Play games. Make music. Feast with your neighbors. It is not enough to avoid what is bad; you must also embrace what is good. Start a church, or a group within your church. Open a classical Christian school, or join and strengthen one that exists. Plant a garden, and participate in a local farmer’s market. Teach kids how to play music, and start a band. Join the volunteer fire department.

Dreher would sell a lot more books if he proposed partisan politics as “the” strategy for Christians in a post-Christian era. But at least for Christians disabused by such failed promises, Dreher’s little way leads the right way.

| ferd

Follow Ferd on Twitter : 
source

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III?

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III

Seorang pria menonton berita TV yang menunjukkan peluncuran Rudal Pukguksong-2, Seoul, Korea Selatan, Senin (13/2). KCNA menyebut rudal Pukguksong-2 sebagai “senjata strategis jenis baru gaya Korea” yang telah dikembangkan. (AP Photo / Ahn Young-joon)

Pyongyang – Situasi di Semenanjung Korea kian tegang. Belakangan, tak hanya Korsel dan Korut yang berada dalam posisi berhadapan. Ada aktor ketiga yang muncul: Amerika Serikat.

Setelah menyerang rezim Suriah yang diduga kuat menggunakan senjata kimia pada rakyatnya, Pemerintahan Donald Trump mengerahkan armada tempurnya ke Semenanjung Korea — untuk mengirim pesan kuat pada pihak Pyongyang yang kerap dianggap memprovokasi dengan uji coba rudalnya.

Di sisi lain, Korea Utara membalas ancaman tersebut. Sejak Kim Jong-un naik takhta menggantikan sang ayah menjadi pemimpin, Pyongyang kian ‘tak terkendali’.

Diawali dengan revisi konstitusi Korut pada tahun 2013 yang membuat negara itu sangat menggebu-gebu untuk membuat dan memiliki senjata nuklir. Dan, pada 2016, Korut semakin dekat untuk memiliki ‘fat lady dan little boy‘-nya sendiri.

Pada 12 Februari 2017, Korea Utara mengonfirmasi telah meluncurkan rudal balistik dengan sukses. Kantor berita Korut, KCNA, melaporkan bahwa rudal Pukguksong-2 itu merupakan senjata strategis baru yang mampu membawa hulu ledak nuklir.

Loncat satu bulan kemudian, dua pejabat Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengatakan, Korea Utara telah melakukan uji coba sistem rudal balistik jenis Scud pada 24 Maret 2017. Seorang pejabat Pentagon menyebut, penilaian awal mengindikasikan bahwa teknologi itu bisa saja digunakan untuk misil balistik antarbenua.

Melihat perkembangan itu, Negeri Paman Sam pun gerah.

Pada 9 April 2017, Angkatan Laut AS mengonfirmasi telah mengirim armada kapal tempur AS yang dipimpin oleh kapal induk USS Carl Vinson–lengkap dengan membopong sejumlah alutsista udara–dan sejumlah kapal tempur lain yang berlabuh di Singapura untuk berlayar ke utara mendekati Semenanjung Korea, dekat dengan wilayah perairan Korea Utara.

Laksamana Harry Harris, Komandan Armada Perairan Pasifik AL AS, menjelaskan bahwa manuver pergerakan mendekat ke Semenanjung Korea itu dilakukan sebagai balasan provokasi yang baru-baru saja dilakukan oleh Korea Utara.

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III2

Kapal induk USS Carl Vinson dikawal sejumlah kapal perang (AFP)

Tiongkok pun ikut meramaikan suasana. Pada 11 April 2017, China dilaporkan telah mengerahkan 150.000 pasukannya ke perbatasan Korea Utara sebagai persiapan menghadapi kemungkinan serangan Amerika Serikat.

Hal ini merupakan respons atas tindakan AS yang pada beberapa hari sebelumnya telah mengirimkan kapal induk USS Carl Vinson dari Singapura ke Korea Utara.

Pasukan China tersebut, dikerahkan untuk menangani adanya gelombang pengungsi Korea Utara dan sejumlah keadaan tak terduga.

Melihat situasi itu, negeri tetangga Korut, Korea Selatan, merasa khawatir dengan meningkatnya tensi militer di Semenanjung Korea.

Untuk memahami mengenai seberapa dekat kita dengan kemungkinan konflik terbuka di Semenanjung Korea, ferd merangkum 5 skenario terburuk yang mungkin dapat terjadi di Korea Utara pada beberapa waktu kedepan.

Rangkuman ini merupakan hasil analisis Jeffrey Lewis, direktur East Asia Nonproliferation Program dari Middlebury Institute of International Studies, seperti yang diwartakan Vox, Rabu,.

Berikut 5 skenario terburuk Amerika Serikat versus Korea Utara:

  1. Kim Jong-un Melakukan Tindakan Gila

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III3

Faktanya adalah, Kim Jong-un memang memiliki misil jarak jauh. Dan, hulu ledak nuklir.

Fakta lain juga adalah, Korea Utara telah lama mempersiapkan diri mereka secara sistemik dan struktural untuk kemungkinan menerima serangan dan konflik terbuka dengan negara lain.

Uji coba misil jarak jauh mereka diprediksi oleh pengamat mampu menempuh sejumlah jarak untuk mengenai sasaran basis militer AS di Korea Selatan dan Jepang.

Andaikata serangan itu berhasil dilakukan, maka dampaknya mungkin akan cukup serius bagi AS untuk melakukan serangan balasan secara efektif.

Skenario itu masih bersifat 50/50. Karena, meski Kim memiliki hulu ledak nuklir, dunia masih belum mengetahui secara pasti apakah nuklir itu akan efektif.

Tapi tunggu, kehadiran Presiden Donald Trump dalam kancah perpolitikan global diprediksi dapat menjadi bandul pemberat bagi situasi di Korea Utara.

Pengamat memprediksi bahwa sikap Trump yang eksentrik dan sulit ditebak dapat memberikan kesan bagi Kim Jong-un bahwa AS akan sungguh-sungguh menyerang Pyongyang.

  1. Saling Serang Korut Vs Korsel

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III4

Secara teknis, dua negara saudara-sebangsa itu masih dalam kondisi perang sejak Perang Korea pecah pada tahun 1950 hingga 1953. Enam puluh empat tahun kemudian, dua negara itu belum menandatangani perjanjian damai — baru gencatan senjata.

Muncullah, Demilitarized Zone (DMZ) pada perbatasan kedua negara. Tensi militer pada perbatasan itu cukup tinggi dan seringkali diprovokasi oleh Korea Utara. Seperti penanaman ranjau yang melukai tentara Korea Selatan, penenggelaman kapal Korsel di wilayah perairan DMZ, dan pencatutan pulau Korsel oleh Korut.

Lewis menilai, skenario buruk dapat terjadi apabila Korsel melakukan provokasi balasan. Negeri Ginseng dilaporkan memiliki sejumlah misil kendali jarak jauh yang khusus ditujukan untuk menyerang Kim Jong-un.

Namun, serangan balasan berupa hantaman nuklir dari Kim juga ditakutkan oleh Korea Selatan.

Maka, kata Lewis, hanya menunggu waktu hingga Korut melakukan provokasi yang kelewat batas dan Korsel telah habis kesabaran.

  1. Donald Trump Meremehkan Korut

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III5

Pengunjung mengambil gambar Reggie Brown yang berdandan mirip Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un dan Dennis Alan yang berdandan mirip Presiden AS Donald Trump saat mempromosikan Rugby Sevens di pusat kota Hong Kong, 7 April 2017. (AP Photo/Kin Cheung)

Skenario yang sama kala George W. Bush memutuskan menginvasi Irak pada tahun 2003 : “Itu hal yang mudah.”

Nyatanya, intervensi militer di Negeri 1001 Malam itu harus berlangsung selama satu dekade penuh, hingga akhirnya Obama menarik mundur seluruh pasukan tempur AS pada tahun 2013.

Arogansi dan kebiasaan meremehkan negara Irak dan–kini Korut — inilah yang mungkin akan terjadi jika Trump mengambil keputusan yang sama dengan anak George Bush itu.

Dan, melihat karakter Trump yang eksentrik serta sulit diprediksi, bisa saja dengan enteng sang presiden AS ke-45 itu memengaruhi dan mendapat persetujuan Kongres AS, menghimpun koalisi, serta menginvasi Kim Jong-un. Tapi yang tidak ia pikirkan adalah, apakah mungkin invasi akan berlangsung efisien dan efektif?

Mungkin Donald Trump harus belajar tentang pepatah ‘belajar dari sejarah.’

  1. Jepang Melibatkan Diri dalam Konflik

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III6

Negeri Sakura cenderung diam pada tensi militer di Semenanjung Korea yang tak berada jauh dari wilayahnya.

Namun, ada indikasi bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe juga ingin memiliki misil kendali jarak jauh yang dapat dibeli dari AS. Dan, jika Jepang juga akan memilikinya, tensi militer kian meningkat.

Menurut Lewis, hanya tinggal menunggu waktu untuk skenario terburuk dapat terjadi ketika hampir seluruh negara di Asia Timur memiliki rudal jarak jauh.

Horor Perang Dunia III bukan tak mungkin terjadi di tengah situasi politik global yang karut-marut.

  1. Runtuhnya Rezim Kim Jong-un

Skenario Terburuk AS Vs Korea Utara, Perang Dunia III7

Sejarah membuktikan, jika suatu rezim mengalami kehancuran dari dalam, konflik terbuka cenderung turut mengikuti.

Lihat saja Bosnia-Herzegovina, Libya, atau Suriah. Pada akhirnya membentuk ‘negara gagal’ (failed state).

Tak hanya rezim, kondisi sosial-masyarakat juga akan mengalami kehancuran.

Korut memiliki sejarah krisis kemanusiaan pada tahun 1990an, seperti kelaparan dan penyakit.

Dan, jika internasional memutuskan untuk melakukan intervensi, situasi seperti di Suriah — yang jadi lokasi proxy war antara Rusia dan AS — mungkin dapat terjadi pula di Korut. Gelombang pengungsi kemungkinan terjadi. | ferd

5 Perempuan ‘Penuh Skandal’ yang Mengubah Jalan Sejarah

0 5 Perempuan 'Penuh Skandal' yang Mengubah Jalan Sejarah

Cleopatra dan Mark Antony (Wikipedia)

Sejarah mencatat kisah seorang raja yang rela turun takhta demi seorang perempuan dari tanah seberang yang sudah menjanda dua kali. Atau ratu Mesir yang membuat dua pria paling kuat di Romawi, seorang kaisar dan lainnya jenderal, mabuk kepayang.

Sejumlah perempuan berperan penting membawa perubahan pada roda zaman, meski predikat “penuh skandal” dilekatkan kepada mereka. Para kaum hawa tersebut memikat hati orang-orang di sekitarnya, menentang norma sosial dan tadisi pada zamannya.

Terlepas dari peran dan profesinya dalam masyarakat–ada penari, penguasa, sosialita, juga seorang lady —perempuan-perempuan tersebut radikal pada masanya. Siapa saja mereka?

Berikut 5 perempuan “penuh skandal” yang ikut mengubah jalannya sejarah, seperti dikutip sebagian dari situs The Vintage News, Sabtu:

  1. ‘Bloody Mary, Sang Ratu Inggris

Ada 10 perempuan yang pernah memerintah Kerajaan Inggris, termasuk Ratu Elizabeth II. Salah satu dari mereka dijuluki “Bloody Mary”.

Mendengar nama Bloody Mary, pikiran sejumlah orang langsung mengarah ke koktail mewah, campuran dari vodka, jus tomat dan kombinasi sejumlah rempah.

Sebelum julukan minumal beralkohol itu mengemukan, istilah “berdarah” itu lekat pada nama Mary I, Ratu Inggris dan Irlandia yang memerintah pada 1553 hingga kematiannya pada 1558.

Ia akan selalu diingat dalam sejarah sebagai sosok kejam yang memerintahkan hukuman bakar hidup-hidup kepada 280 orang yang dianggap membangkang keputusannya soal agama, karena itulah dia dijuluki Bloody Mary oleh rakyatnya.

1

Ratu Mary I dari Kerajaan Inggris (Wikipedia/Museo del Prado)

Mary adalah satu-satunya keturunan Henry VIII dari istri pertamanya, Catherine of Aragon. Ia menggantikan adik tirinya yang sakit-sakitan, Edward VI. Sang adik yang tak menyukai Mary gara-gara perbedaan agama.

Edward VI menunjuk sepupunya, Lady Jane Grey, sebagai ratu. Namun, Mary yang tak terima dengan keputusan itu mengumpulkan para pendukungnya untuk memenggal Jane yang baru bertakhta selama 9 hari.

Meski sudah didahului tiga ratu: Matilda, Margaret dan Lady Jane, Mary I dianggap penguasa perempuan pertama yang benar-benar memerintah Inggris.

  1. Wallis Simpson

Wallis Simpson adalah seorang sosialita asal Amerika Serikat yang  lahir pada 1896. Ia sudah dua kali menikah. Perempuan itu awalnya menikah dengan perwira Angkatan Laut AS, Win Spencer. Namun, tak lama kemudian keduanya bercerai.

Pernikahan kedua dijalani bersama eksekutif sebuah perusahaan pelayaran Inggris, Ernest Simpson. Namun, ketika masih terikat pernikahan keduanya itu, ia terlibat hubungan terlarang dengan Edward, Prince of Wales atau putra mahkota Kerajaan Inggris.

Dua tahun setelah pernikahan, Wallis menceraikan suami keduanya agar bisa menikah dengan Edward yang kala itu dinobatkan jadi Raja Inggris. Edward melamar Wallis pada 1936, yang memicu skandal dan krisis besar di Britania Raya.

Pernikahan itu ditentang habis-habisan. Apalagi, sebagai penguasa monarki, Edward VIII juga otomatis menjadi pemimpin Gereja Inggris (Church of England) yang melarang seseorang yang bercerai menikah lagi selama bekas pasangannya masih hidup.

2

Ditambah Wallis tidak hanya punya satu mantan, tapi dua sekaligus. Namun, Edward tidak bergeming. Ia bersikukuh menikahi kekasihnya itu. Agar bisa melakukannya, Edward terpaksa turun takhta dan digantikan adiknya, Albert, yang dinobatkan sebagai George VI, yang kemudian mewariskan kekuasaan pada Ratu Elizabeth II.

“Saya, Edward VIII, Raja Inggris… dengan ini menyatakan keputusan saya yang tak bisa dibatalkan, untuk meninggalkan takhta untuk diri saya sendiri dan juga untuk anak keturunan saya,” tulis dia dalam surat tersebut, seperti yang ferd kutip dari Vancouver Sun.

Ia menandatangani surat penyerahan takhtanya, Kamis pagi 10 Desember 1936, di depan saudara-saudaranya dan para pengacara. Kekuasaannya berakhir di hari ke-325. Ia bahkan belum sempat dinobatkan secara resmi sebagai raja.

Setelah tak jadi raja, Edward memilih gelar His Royal Highness the Duke of Windsor, sementara Wallis jadi Her Grace.

Pasangan itu menikmati status sebagai selebritas, meski hanya sementara. Mereka tinggal di Bahama dari 1940 hingga 1945, di mana Sang Duke menjabat sebagai gubernur. Keduanya diduga sebagai simpatisan Nazi, bahkan bertemu dengan Adolf Hitler pada 1937.

3

Edward VIII dan Duchess saat menemui Hitler 1937. (Guardian)

Tak seperti pernikahan sebelumnya yang seumur jagung, Wallis menjadi istri Edward selama 35 tahun sampai kematiannya pada 1972. Setelah itu, perempuan tersebut mengasingkan diri, jarang terlihat di depan umum. Wallis Simpson tetap menjadi tokoh kontroversial dalam sejarah Inggris.

  1. Cleopatra

Cleopatra VII Philopator adalah salah satu penguasa Mesir Kuno paling terkenal sepanjang sejarah. Ia juga pemimpin perempuan paling termasyhur. Sebagai penguasa aktif terakhir Mesir Kuno, ia bertakhta sebagai firaun dalam masa singkat sebelum kerajaannya kemudian menjadi salah satu provinsi Kekaisaran Romawi.

Ada banyak hal yang menakjubkan tentang Cleopatra, selain kuku-kukunya yang dicat merah menyala. Ia adalah sosok yang dinamis.

Cleopatra adalah satu dari sedikit orang dalam keluarganya yang bisa berbahasa Mesir. Ia memang bukan asli Mesir. Keluarganya berakar dari Yunani, tepatnya Makedonia dan merebut kekuasaan Mesir setelah wafatnya Alexander Agung.

Dalam perannya sebagai Firaun Mesir, ia merepresentasikan diri sebagai reinkarnasi Dewi Isis.

4

Wanita Terkaya Dunia Sepanjang Masa Cleopatra (Time)

Salah satu episode paling terkenal dalam hidupnya adalah ketika diam-diam menyelundupkan diri ke Istana Julius Caesar. Diduga karena Cleopatra ingin mendapat keuntungan dari sang kaisar.

Dalam biografi Julius Caesar karya Plutarch, digambarkan bagaimana Cleopatra melewati sejumlah pengawal yang berjaga ketat, bersembunyi dalam gulungan karpet–dengan bantuan pembantunya, Apollodorus, yang menggendong alas itu itu.

Hanya sembilan bulan setelah pertemuannya dengan Caesar, Cleopatra melahirkan Ptolemeus Caesar pada 47 Sebelum Masehi. Akibatnya, Caesar mengurungkan niatnya menjajah Mesir dan justru mendukung Cleopatra sebagai penguasa Mesir.

Saat Julius Caesar dibunuh pada 44 SM, Cleopatra dan kekasihnya, Mark Antony, menentang pewaris tahta Augustus dan berusaha mengangkat anaknya jadi penguasa Romawi.

5

Markus Antonius dan Ratu Cleopatra

Cleopatra melahirkan anak kembar hasil hubungannya dengan Antony. Namun, keduanya berakhir tragis. Antony bunuh diri menyusul kekalahannya dari pasukan Augustus. Tak lama kemudian, Cleopatra menyusul kekasihnya ke alam baka.

  1. Isadora Duncan

Meski lahir di California, Amerika Serikat, Isadora Duncan menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di Eropa Barat dan Uni Soviet. Hidupnya berakhir secara tiba-tiba dan tragis, yakni tercekik selendangnya yang terlilit ban mobil. Meski demikian, ia adalah salah satu penari paling terkenal lagi penting.

Tak hanya menggerakkan tubuhnya mengikuti irama, Duncan melanggar aturan, menumbangkan tradisi dan membongkar ulang konsep tari sebagai “seni yang sakral”.

Duncan menganut filosofi dalam menari. Ia yakin sumber semua gerakan adalah chakra ketiga atau solar plexus — yang berhubungan dengan kemauan, obsesi, kekuatan, kesehatan dan tenaga yang letaknya di seputar perut atau ulu hati.

Gerakan melompat-lompat yang tak dimasukkan dalam teknik balet, menyatu secara sempurna dalam gerakan tarinya. Pada akhirnya, Isadora Duncan menjadi pencipta tari modern.

6

Isadora Duncan, penari terkenal dengan akhir hidup yang tragis (Wikipedia/Library of Congress)

Tak hanya pada tari, ia juga mendobrak norma sosial dan tradisi. Sebagian besar kehidupan pribadinya penuh skandal serta kemalangan. Ia adalah seorang biseksual, pendukung komunisme dan ateis. Pada masanya, abad ke-20, Isadora Duncan dianggap kelewat batas.

Kekasih sesama jenisnya adalah Mercedes de Acosta yang merupakan penyair, dramawan dan penulis novel asal AS. Meski demikian, Duncan punya 2 (dua) anak hasil dari perkawinannya. Namun tragisnya, sang anak tewas tenggelam dalam sebuah insiden di Sungai Seine.

Sang penari juga punya bayi lain yang meninggal setelah dilahirkan. Isadora Duncan juga menikah dengan penyair Rusia, Sergei Yesenin, yang usianya 18 tahun lebih muda. Dua tahun setelah perpisahan mereka, Yesenin bunuh diri.

7

Isadora Duncan, sang penari (New York Public Library Digital Collections)

Isadora Duncan meninggal dalam kecelakaan mobil yang dianggap aneh 14 September 1927 malam, di Nice, Prancis.

“Isadora Duncan, penari Amerika, menemui akhir yang tragis di Riviera, Nice. Menurut kabar dari Nice, Duncan terlempar dari mobil terbuka yang ia kendarai dan tewas seketika akibat hempasan di trotoar batu,” demikian dilaporkan The New York Times kala itu.

  1. Lady Godiva

Legenda menyebut, Lady Godiva mengendarai kuda dalam kondisi telanjang di jalanan Coventry. Tubuhnya yang tanpa busana hanya ditutupi oleh rambut panjangnya yang indah. Kisah itu diyakini berasal dari permulaan abad ke-13.

Menurut versi yang menyebar dalam masyarakat, sang Lady menaruh iba pada masyarakat Coventry yang menderita akibat pajak kelewat tinggi yang ditetapkan suaminya sendiri. Ia sudah berkali-kali merayu pasangannya, tapi tak mempan.

Lelah dengan permintaan Lady Godiva yang terus-terusan diucapkan, pria tersebut akhirnya mengabulkannya dengan satu syarat: istrinya itu harus telanjang dan naik kuda di jalanan kota. Perintah pun dikeluarkan, setiap orang harus tinggal di dalam rumah dengan jendela tertutup.

8

Legenda Lady Godiva yang naik kuda dalam kondisi tanpa busana (Wikipedia)

Sejarawan dibuat bingung dengan berbagai versi dan sumber yang menceritakan kisah Lady Godiva. Beberapa dari ahli mengidentifikasi unsur-unsur upacara kesuburan sesuai keyakinan pagan dalam narasi tersebut. Mungkin hal itu ritual untuk merayakan datangnya musim semi.

Terlepas benar tidaknya kisah tersebut, legenda tentang Lady Godiva yang naik kuda telanjang demi rakyat, masih dianggap sebagai salah satu peristiwa yang paling ikonik dalam sejarah.

Selain itu, menurut legenda, ada satu orang bernama Tom, yang tidak mengikuti aturan dan mengintip apa yang dilakukan Lady Godiva. Tindakan pemuda itu mengilhami istilah ‘Peeping Tom’ yang mewakili tukang intip.

Sehingga legenda Lady Godiva dipandang sebagai salah satu contoh yang paling terkenal dari voyeurisme, yakni kondisi kelainan di mana seseorang memiliki prefensi tinggi untuk mendapatkan kepuasan seksual dengan melihat orang lain yang tanpa busana. | ferd