Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan

Penyu belimbing adalah penyu terbesar di dunia. Makhluk yang unik ini sangat mungil dan menggemaskan saat baru lahir, tetapi menjadi monster yang bobotnya bisa mencapai 800-900 kg setelah dewasa.

Dari penampilannya, penyu belimbing ini tampak jinak seperti penyu lainnya, tapi dibalik penampilannya yang tampak lembut itu, anda akan menemukan sebuah senjata yang mengerikan di sekeliling mulutnya ketika mereka membuka moncongnya.

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan2

Ukuran penyu belimbing bisa sebesar itu, karena mereka melahap banyak ubur-ubur yang bergerak lambat.

Kadang-kadang, penyu ini bisa menghabiskan 73% makanan yang setara dengan bobotnya sendiri, atau setara dengan 16.000 kalori, lebih tinggi 3 – 7 kali dari hidup yang dibutuhkannya.

Itulah sebabnya mengapa penyu belimbing membutuhkan gigi yang tajam. Gigi memberi keuntungan evolusioner padanya. Giginya yang tajam, dengan bentuk yang melengkung dan lurus dalam mulutnya itu dapat mencegah ubur-ubur melarikan diri.

Ini juga berarti penyu belimbing dapat melahap berbagai jenis ubur-ubur, termasuk ubur-ubur seukuran lebah atau singa.

Penyu Terbesar di Dunia Ini Miliki Senjata Tersembunyi yang Mematikan3

Padahal itu bukanlah gigi yang sebenarnya, melainkan papila yaitu tonjolan-tonjolan pada selaput dalam mulut yang berfungsi seperti gigi bagi penyu saat makan.

Meskipun penyu memiliki sistem pencernaan yang baik, tetapi mereka tidak bisa membedakan antara ubur-ubur dan sampah plastik yang mengambang di permukaan.

Ini adalah kekhawatiran terbesar penyu belimbing menghadapi kepunahan, dan kita perlu mengambil langkah-langkah untuk melindungi mereka dari ancaman kepunahan. | ferd

5 Pulau di Indonesia yang Terancam Akan Tenggelam

 

 

Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah kepulauan begitu banyak, menurut data yang bisa dilihat di Wikipedia, ada lebih dari 17.000 pulau di Indonesia. Mulai dari pulau-pulau besar dan juga pulau kecil yang terbentang dari ujung Sumatra hingga Papua.

Tetapi sebagai negara kepulauan, Indonesia sebenarnya dibayangin dan terancam oleh naiknya air laut yang setiap waktunya terus bertambah. Hal ini akan berdampak pada beberapa kepuluan di Indonesia yang akan tenggelam di tahun-tahun mendatang.

Inilah 5 daftar pulau di Indonesia yang terancam tenggelam di masa yang akan datang.

  1. Pulau Kelor

Pulau Kelor

Pulau Kelor termasuk dalam gugusan kepulauan seribu, Jakarta, yang diprediksi dalam 40 tahun mendatang akan tenggelam. Luas pulau ini pada tahun 1980 adalah satu setengah hektar, namun saat ini luas Pulau Kelor hanya tersisa satu hektar saja. Abrasi dan pemanasan global menjadi penyebab utama dari terkikisnya luas pulau ini.

  1. Pulau Sentut

Pulau Sentut

Pulau Sentut merupakan pulau terluar di Indonesia yang terletak di perairan laut China Selatan dan diantara perbatasan Indonesia dengan Malaysia, tepatnya kabupaten Bintan, provinsi Kepulauan Riau. Luas pulau ini tidak sampai 2 hektar, namun saat ini luas dan ketinggiannya semakin berkurang karena abrasi dan penambangan bauksit (biji utama aluminium). Meski tidak berpenghuni, Pulau Sentut sering dijadikan sebagai tempat transit oleh TKI ilegal yang akan ke Malaysia.

  1. Pulau Padang

Pulau Padang

Pulau Padang yang berada di provinsi Riau ini terancam tenggelam akibat pembukaan hutan lahan gambut yang terus-menerus dilakukan. Padahal rawa gambut yang dihilangkan dari Pulau Padang merupakan benteng utama pulau di pesisir dari ancaman abrasi dan meningkatnya permukaan laut.

  1. Pulau Tembora

Pulau Tembora

Pulau Tembora di wilayah Riau dengan luas 200 hektar ini terancam tenggelam akibat aktifitas penambangan bauksit. Jika tidak dilakukan penambangan, sebenarnya pulau ini memiliki luas yang jauh lebih besar. Namun kini garis terluar dari Pulau Tembora sebenarnya masih terlihat, tapi sudah berada di bawah air.

  1. Pulau Bali

Pulau Bali

Pulau Bali diperkirakan tenggelam akibat proyeksi curah hujan jangka panjang yang meningkat. Hal ini menyebabkan curah hujan bertambah sebesar setiap lima tahun. Luas Pulau Bali saat ini 5632 km persegi, namun pada tahun 2050 diperkirakan akan terendam seluas 489 km. persegi, itupun akan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Akibat lainnya yang muncul yaitu terpisahnya Pulau Bali menjadi dua sisi.

Itulah daftar 5 pulau di Indonesia yang terancam tenggelam. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memang sudah pasti menghadapi ancaman nyata terhadap naiknya permukaan air laut akibat pemanasan global. Bahkan diperkirakan masih banyak lagi pulau-pulau lainnya yang juga ikut tenggelam nantinya.| ferd

Follow Ferd on Twitter 

Mengenal Aneka Jenis Coklat

 

Tahukah Anda kalau coklat itu memiliki berbagai macam jenis? Berikut ini adalah beberapa jenis coklat yang harus anda tahu:

  1. Couverture Coklat

wikimedia

jenis coklat yang satu ini merupakan jenis coklat yang paling disukai oleh orang-orang pecinta coklat. Ini merupakan jenis coklat asli yang mengandung coklat mass dan lemak coklat. Rasanya pahit dan biasanya dijual dengan harga yang lebih mahal.

  1. Compound Coklat

wikimedia

Jenis coklat yang satu ini memiliki komposisi yang hampir sama dengan couverture coklat, namun pada cocoa butternya diganti dengan minyak kelapa atau soya. Untuk rasanya, coklat ini akan lebih manis dan harganya juga lebih murah dari couverture coklat.

  1. Coklat bubuk

pixabay

Coklat jenis ini biasanya memiliki aroma yang pekat. Kelebihannya adalah tidak mengeluarkan bau aneh dan tidak akan berjamur. Biasanya coklat ini digunakan untuk adonan kue.

  1. Coklat susu

pixabay

Ini merupakan jenis coklat yang paling banyak dijual dan juga dikonsumsi. Coklat ini terbuat dari gula, kakao, coklat cair, dan vanila. Coklat susu ini memiliki rasa yang lebih manis dari jenis coklat lainnya.

  1. Coklat putih

pixabay

Kalau jenis coklat yang satu ini tidak mengandung kokoa yang tinggi, bisa dilihat dari warnannya yang putih. Coklat ini terbuat dari coklat, gula dan vanili. Coklat jenis ini sering digunakan untuk dekorasi. | ferd  http://www.famous.id/video/discover/yuk-kenali-jenis-jenis-coklat-berikut-ini-170208f.html

Teladan kebersihan dari Indonesia yang mendunia, patut ditiru

 

Indonesia sering masuk dalam daftar negara dengan polusi tertinggi. Pengelolaan limbah di negara kita pun sering disebut jauh dari baik. Tetapi bukan berarti orang Indonesia sama sekali tak kenal kebersihan. Ada beberapa teladan mengenai kebersihan dan lingkungan yang dipelopori oleh beberapa anak bangsa. Langkah ini bahkan sempat menjadi perhatian dunia. Karena itulah, kita perlu mengetahui dan menirunya.

Berikut ini beberapa contoh kebersihan di Indonesia yang patut kita banggakan dan teladani. Mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk lebih perhatian lagi terhadap masalah lingkungan.

 2

  1. Penglipuran, desa terbersih di dunia

Ini adalah Penglipuran, desa adat di Bangli, Bali. Pemukiman tradisional yang letaknya tak jauh dari Kintamani ini tak hanya dikenal karena keindahannya. Penglipuran juga disebut-sebut sebagai salah satu desa paling bersih di dunia. Desa ini menduduki tempat ketiga setelah Giethoorn (Belanda) dan Mawlynnong (India).

Penglipuran merupakan kawasan wisata yang sangat populer. Tetapi desa ini tetap bisa mempertahankan sisi tradisional dan kelestarian lingkungannya. Penataan desa dan bangunan tradisionalnya masih terjaga utuh. Begitu juga dengan 75 hektar hutan bambu dan 10 hektar vegetasi yang masih terawat. Bahkan inilah yang menjadi ciri khas Penglipuran di mata dunia.

 3

  1. Bersihnya Air Asinahu, sungai di Pulau Seram

Siapapun yang melihat langsung Air Asinahu pasti kagum dibuatnya. Meskipun berhimpitan dengan pemukiman warga Desa Sawai, sungai di Pulau Seram, Maluku Tengah ini masih terjaga kebersihannya. Airnya jernih berwarna kehijauan. Padahal warga menggunakan air sungai untuk berbagai kebutuhan sehari-hari, termasuk mandi dan mencuci baju.

Warga Sawai dan sekitarnya memang berkomitmen untuk menjaga sungai mereka agar bebas pencemaran. Pinggiran sungai dilapisi ubin. Anak-anak biasa bermain di sana.

 4

  1. Selokan merangkap kolam ikan Joko Sucipto

Mungkin kamu sudah pernah mendengar tentang bersihnya selokan-selokan di Jepang. Saking bersihnya sampai bisa dimanfaatkan untuk memelihara ikan koi. Tentunya hal seperti ini hanya bisa dilakukan kalau kualitas airnya benar-benar baik. Tetapi jangan dikira di Indonesia kita tidak bisa menemui yang seperti ini. Buktinya adalah selokan yang berfungsi ganda sebagai kolam ikan milik Joko Sucipto.

Dilansir Merdeka.com Jawa Tengah, kolam milik Mbah Joko, sapaan akrab pensiunan pegawai bank itu berada di Dukuh Samberan, Pluneng, Klaten. Mbah Joko meniru cara memelihara ikan di selokan seperti di Jepang. Selokan di depan rumahnya dibendung sepanjang 10 meter dengan kawat penyaring air. Kolam dadakan yang terbentuk digunakan untuk memelihara ikan mas dan gurami. Kemudian Mbah Joko mulai membudidayakan pula ikan nila, mujair, dan belakangan koi. Agar air tetap bersih, ikan hanya diberi makan nasi atau roti sisa.

Tak cuma menghasilkan, kolam selokan Mbah Joko juga menjadi tontonan tersendiri bagi warga. Kolam tersebut sempat viral di jejaring sosial, bahkan menarik perhatian Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

 5

  1. Bank sampah

Bank sampah merupakan salah satu metode pengelolaan sampah di Indonesia yang dipuji dunia. Bisa ditemukan di beberapa kampung yang ada di Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Pada bank sampah, limbah rumah tangga dipisahkan menjadi sampah organik dan non-organik oleh masing-masing rumah. Setelah itu disetorkan ke bank sampah dalam bentuk deposit, layaknya orang yang sedang menabung di bank. Sampah yang disetor dihargai dengan tarif yang telah ditentukan sebelumnya.

Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik dipilah-pilah lagi menjadi sampah plastik, kertas, serta botol dan logam. Hasilnya dijual dan dimasukkan ke rekening sampah warga. Jadi selain menikmati lingkungan yang bersih, warga juga bisa mendapatkan keuntungan ekonomis dari sampah

 6

  1. Kantong kresek bioplastik Avani Eco

Kevin Kumala, seorang pengusaha muda asal Bali menarik perhatian dunia karena inovasi ramah lingkungan yang dia pelopori. Kevin memproduksi kantong kresek biodegradable. Artinya kantong kresek buatannya tidak akan mencemari lingkungan, karena bisa dicerna dengan mudah oleh alam. Bahkan jika termakan oleh binatang pun tak akan menjadi masalah.

Dilansir Business Insider, Kevin menggunakan singkong sebagai bahan dasar kantong kresek buatannya. Untuk membuktikan tingkat keamanan, Kevin mengunggah sebuah video di Facebook. Dia memasukkan kantong dalam segelas air hangat. Kantong yang meleleh bersama air kemudian diminumnya hingga habis.

Kevin membuat kantong bioplastik tersebut karena prihatin dengan permasalahan limbah plastik yang semakin gawat di Pulau Jawa dan Bali. Dengan adanya kantong bioplastik diharapkan bisa mengurangi limbah plastik yang dihasilkan oleh masyarakat setiap harinya.

Sekarang kantong bioplastik buatannya diproduksi secara massal dan dipasarkan melalui perusahaannya yang bernama Avani Eco. Kantong ini laris manis di pasar lokal maupun luar negeri. Bangak dipesan restoran, toko, dan hotel yang ada di Indonesia maupun Australia.| ferd

How ’80s Comics Prophesized Today’s Global Clusterfuck

How '80s Comics Prophesized Today's Global Clusterfuck

A young man in a Guy Fawkes mask appears on TV to denounce his government as fascist and corrupt. Technocrats and spineless politicians run the United States government, more concerned with corporate backers than the welfare of their citizens. The youth remains isolated from the conventional world of politics, preferring to express themselves in the streets. These are all scenes from ‘80s comics: V for VendettaAmerican Flagg! and Akira, respectively, but they also describe news feeds from 2017. In the aforementioned books, war with Russia looms, post-industrial capitalism has gutted the world and the American people have been stupefied into passivity. Sometimes satirical, sometimes deadly serious, these series were intended to depict the darkest of possible futures. So how did some of the most dystopian comics turn into prophecies?

Like most sci-fi stories of any worth, these comics reflect the times when they were made, and the 1980s were indeed turbulent times. Ronald Reagan in the U.S. and Margaret Thatcher in the U.K. soared to power on the promise of privatizing their respective governments. The Cold War reached a fever pitch, and Latin American and Afghan militias received funding from the United States to combat Russia. The AIDs epidemic ran rampant through the decade, killing millions of gay men and women. As V for Vendetta co-author Alan Moore told MTV News in 2006, “When I wrote V, politics were taking a serious turn for the worse over here. We’d had [Conservative Party Prime Minister] Margaret Thatcher in for two or three years, we’d had anti-Thatcher riots, we’d got the National Front and the right wing making serious advances. V for Vendetta was specifically about things like fascism and anarchy.”

While the major Western economies were booming and busting during this time, the Japanese economy was seemingly much more stable and healthy. As films and novels from Ridley Scott’s Blade Runner to William Gibson’s Neuromancer attest, the West felt increasing anxiety over Japan’s emerging cultural domination. But while money and the arts seemed to flourish for the Japanese, their political and economic security hid some growing fault lines. As their economy grew, it moved from an agricultural and manufacturing-based system to an informational base. Telecommunications, computers, robotics and information processing were privileged—a hierarchy that would give rise to Japan’s reputation as a futuristic wonderland. This strained relationship with tech, and the hubris of technological progress, manifested itself in now classic books like Masamune Shirow’s Appleseed, Hayao Miyazaki’s Nausicaa of the Valley of the Wind and Shirow’s The Ghost in the Shell—stories of technology run amok and the complications that unchecked development can bring.

These communities were riddled with tension, riding high on the untenable promise of infinite economic growth, under a tidal wave of social upheaval and international strain. Those common themes spread into comics: the bombastic corporatism, the fascist worlds, the meeting of man and machine that can either destroy us or elevate humanity. As President Jimmy Carter said, accepting his party’s nomination for the 1980 presidential race:

In one of the futures we can choose, the future that you and I have been building together, I see security and justice and peace.

[…]

But there is another possible future. In that other future I see despair—despair of millions who would struggle for equal opportunity and a better life and struggle alone. And I see surrender—the surrender of our energy future to the merchants of oil, the surrender of our economic future to a bizarre program of massive tax cuts for the rich, service cuts for the poor, and massive inflation for everyone. And I see risk—the risk of international confrontation, the risk of an uncontrollable, unaffordable, and unwinnable nuclear arms race.

American made its choice, electing Ronald Reagan by a landslide that November. And, unfortunately, the prevailing political philosophy that Reagan ushered—a conservative religiosity merged with a neoliberal economic policy and hawkish foreign policy—would prove Carter’s more sinister premonition right. As documentarian Adam Curtis traces in various works, most recently in the BBC production HyperNormalisation, the conception of the world prescribed by Reagan would precede an explosion in incarceration, the war on terror and the 2008 financial collapse. The world was not swayed by these warnings of the future; the politics that gave rise to Moore’s Watchmen and Frank Miller’s Ronin were allowed to run their course and reach their inevitable conclusions. Now we have a president who feuds with consumer brands on Twitter and a generation of young people who appear disconnected from political life. Fiery protests against state violence have broken out around the world, from Ferguson, Missouri, to Paris, and the industrialist du jour remains convinced that the only future for humanity is cyborg transhumanism. One state is trying to strip women of all their bodily autonomy, and Congress just gave coal companies the OK to pollute streams. Making text out of sub-text, some outlets are even declaring “the ‘80s” the hot trend of 2017.

So if the authors of the that decade glommed onto the politics of the day and extrapolated outwards to make these worlds, what worlds are the authors of today extrapolating? Misogynist prison planetszombie wastelands and war-torn interplanetary colonies. The satire and humorous hyperbole in the sci-fi fables seem to have been sucked out completely, replaced by an apocalyptic vision of total decay, of a place beyond hope, of a time when all of our imagined paths have lead to dead ends. The bleakness of these visions and the narrowness of their scope offers a worrying insight into our collective prognosis of the world. But the dearth of alternative vision, maybe even more worryingly, lends credence to literary theorist Fredric Jameson’s now-famous saying: “It is now easier to imagine the end of the world than the end of capitalism.” | ferd

Follow Ferd on Twitter 
source

Mengintip Duyung-duyung Seksi Rusia Latihan Berenang

 

Intip duyung-duyung seksi Rusia latihan berenang. Banyak perempuan Rusia yang bermimpi menjadi putri duyung. Kini, mimpi mereka bisa menjadi kenyataan berkat kehadiran sebuah sekolah mengajarkan cara berenang menggunakan kostum ala putri duyung kepada anak didiknya.

1 intip-duyung-duyung-seksi-rusia-latihan-berenang-001-nanda-farikh-ibrahim

Dua wanita berlatih renang di Sekolah Pelatihan Putri Duyung di Moskow, Rusia, Kamis (16/3). Banyak perempuan Rusia yang bermimpi menjadi putri duyung. Kini, mimpi mereka bisa menjadi kenyataan berkat kehadiran sekolah ini. Sekolah ini mengajarkan cara berenang menggunakan kostum ala putri duyung kepada muridnya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Follow Ferd on Twitter

Sejumlah wanita berlatih renang menggunakan kostum ekor putri duyung di Sekolah Pelatihan Putri Duyung di Moskow, Rusia, Kamis (16/3).

 

7

Seorang wanita membasuh tubuhnya seusai berlatih renang menggunakan kostum ekor putri duyung di Sekolah Pelatihan Putri Duyung di Moskow, Rusia, Kamis (16/3)

| ferd