Banyak warga di Buleleng menderita bisu dan tuli   


banyak-warga-di-buleleng-menderita-bisu-dan-tuli

Banyak warga di Desa Bengkale, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, mengalami masalah tuli dan bisu sejak lahir. Temuan ini diungkap oleh Wakil Ketua DPRD Provinsi Bali, I Nyoman Sugawa Korry.

Data yang diperolehnya mencatat dari seluruh keluarga miskin di desa itu, ada 43 orang di antaranya mengalami tuli dan bisu. Mereka yang menderita bukan hanya dari satu klan (keluarga besar) tetapi dari bagian keluarga yang terpisah.

“Ternyata di Desa Bengkale, penduduk yang menderita tuli dan bisu sejumlah 43 orang dari 13 KK miskin,” ujar Korry di Denpasar, Minggu (19/3).

Menurut dia, keberadaan para penderita tuli dan bisu ini patut untuk diteliti lebih lanjut karena bukan ada di satu keluarga besar saja.

“Diduga bukan faktor genetik saja penyebabnya. Ini merupakan fenomena yang mesti dilakukan penelitian secara lebih mendalam. Penelitian itu penting dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebabnya,” tuturnya.

Politikus asal Buleleng ini mengaku bahwa sejauh ini Pemprov Bali telah memberikan bantuan pendidikan inklusif kepada warga tersebut. Namun, warga di sana mengusulkan adanya jenjang lebih lanjut dari sekolah tersebut.

“Usulan para tokoh, Kades, diharapkan pendidikan inklusif di sana lebih ditingkatkan lagi sehingga bisa juga menampung masyarakat di sekitarnya yang mengalami masalah yang sama,” katanya.

Dia sendiri memastikan akan menindaklanjuti aspirasi tersebut. “Kami akan koordinasi dengan Pemprov Bali. Kita akan koordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan.”

Bupati terpilih di Buleleng, Putu Agus Suradnyana, membenarkan bahwa di wilayahnya ada satu desa yang penduduk ada masalah tuli dan bisu. Desa tersebut bernama Desa Bengkala, di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.

Kondisi ini sudah terjadi sejak lama bahkan turun temurun. Namun kini jumlah warga yang alami tuli dan bisu sudah berkurang.

Lebih lanjut dijelaskannya, untuk di Desa Bengkal ini bisa dijadikan tempat pagelaran kesenian untuk destinasi orang-orang disabillitas atau tuna wicara.

“Destinasi orang-orang yang tuna wicara justru saya dorong agar bisa dijadikan pusat untuk pengembangan kesenian orang bisu di Bengkala,” tandasnya. | ferd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s