UU Brexit Lolos, Skotlandia Referendum Lagi


UU Brexit Lolos, Skotlandia Referendum Lagi

Wakil Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon mengatakan dirinya akan mempersiapkan langkah untuk memisahkan diri dari Inggris, menyusul disahkannya undang-undang Brexit.

Parlemen Inggris mengesahkan undang-undang yang memungkinkan Perdana Menteri Theresa May untuk meninggalkan Uni Eropa itu, Senin malam (14/3).

Kamar bawah parlemen menolak perubahan pada undang-undang tersebut dan mengirimkannya lagi ke kamar atas untuk pemilihan suara ulang.

Kamar atas kemudian sepakat tidak mempertahankan keinginannya untuk memberikan perlindungan bagi warga Uni Eropa setelah Brexit.

Dengan demikian, May bisa memulai proses yang diatur dalam Pasal 50 perjanjian Lisbon dan bernegosiasi dengan Uni Eropa soal kepergian negaranya.

Sementara itu, Sturgeon mengatakan jelas bahwa Inggris telah mengambil keputusan yang buruk dengan meninggalkan organisasi benua biru itu.

Dia menyatakan akan berupaya untuk menempuh langkah hukum, pekan depan, untuk menggelar kembali referendum sebelum Brexit.

May bisa memulai proses untuk meninggalkan Uni Eropa hari ini. Namun, pengumuman Sturgeon dan pemilihan umum Belanda yang semakin mendekat bisa menunda perkiraan ini.

Berbicara di Edinburgh, Sturgeon mengatakan dirinya akan meminta Parlemen Skotlandia untuk memberinya kekuasaan menggelar referendum kemerdekaan.

Sturgeon menilai May gagal menanggapi seruannya dari Skotlandia untuk tetap bergabung dengan pasar tunggal Eropa dan kekhawatirannya akan diusir dari Uni Eropa setelah Brexit.

Dalam referendum Brexit, Skotlandia didominasi suara untuk tetap berada di Uni Eropa, dengan perbandingan 62 persen melawan 38 persen. Sturgeon mengatakan warga Skotlandia berhak menentukan jalan masa depannya sendiri.

“Saya meyakinkan bahwa masa depan Skotlandia … akan ditentukan oleh rakyat Skotlandia,” kata dia kepada wartawan di kediaman dinasnya.

“Skotlandia punya hak menentukan pilihan sendiri dan saya mempercayakan kepada warga Skotlandia untuk mengambil pilihan tersebut.

Dia ingin referendum tersebut digelar akhir 2018 atau 2019, sebelum negosiasi Brexit selesai. Jika terpenuhi, maka Skotlandia bisa berargumen agar tetap berada di Uni Eropa sementara Inggris melangkah pergi.

Pemerintah Inggris menyebut pernyataan Sturgeon “memecah-belah” dan May akan mengupayakan kesepakatan yang sesuai dengan keinginan seluruh warganya.

Namun, di saat yang sama, pemerintah juga menyatakan tidak akan mengizinkan Skotlandia untuk menggelar referendum lagi, setelah pada 2014 negara bagian tersebut memutuskan untuk tetap bergabung dengan Inggris dengan perbandingan suara 55 persen lawan 45 persen. | ferd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s