MPR: Antisipasi Ancaman Disintegrasi Perlu Penyegaran Lewat Pemahaman Empat Pilar


mpr-antisipasi-ancaman-disintegrasi-perlu-penyegaran-lewat-pemahaman-empat-pilar

JAKARTA – Munculnya kekhawatiran ancaman desintegrasi bangsa dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menyusul ketegangan menjelang Pilkada DKI Jakarta, akhir-akhir ini, memang dirasakan semua. Karena itu, diperlukan penyegaran dalam berbangsa dan bernegara melalui pemahaman Pancasila Bhinneka Tunggal Ika.

Pernyataan tersebut dikemukakan Wakil Ketua MPR, Hidayat Nur Wahid, dalam Diskusi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema ‘Merawat Kebhinnekaan’, bersama pengamat politik Yudi Latif, Arbi Sanit dan pengamat ekonomi politik Ichsanuddin Noorsy, di gedung DPR, Jakarta, Senin (13/2).

“Kalau kekhawatiran itu karena banyaknya aksi 411, 212, dan 112, ini sebenarnya untuk menegakkan NKRI. Bukan anti Bhinneka Tunggal Ika. Tinggal kasusnya diselesaikan dengan menegakkan hukum. Bukan saling teror, apalagi mengancam antara satu dengan yang lainnya di tengah masyarakat,” ujar Hidayat.

Karena itu, dia meminta seluruh elemen bangsa, khususnya eksekutif dan legislatif, mulai dari pusat hingga ke daerah untuk melaksanakan 4 pilar MPR. Yaitu memahami UUD NRI 1945, Pancasila, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

“Bahwa ancaman itu bukan saja dengan adanya aksi-aksi tersebut, melainkan masih banyak ancaman sparatis di beberapa daerah di Indonesia yang harus diatasi oleh pemerintah. Termasuk kesenjangan ekonomi, pembangunan, pendidikan dan lain-lain. Dan, dalam berdemokrasi ini, kita diberi ruang untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan penyegaran,” ujar politisi PKS itu.

Sementara itu, Yudi Latif menegaskan bahwa Pancasila dan kebhinnekaan ini sebagai modal sosial dasar bangsa Indonesia menghadapi globalisasi yang kini tengah terguncang.

“Indonesia malah menjadi teladan dunia, Pancasila dianggap sebagai DNA-nya Indonesia bahwa bangsa Indonesia itu demokratis, beragam, eksotik, dan tolerans,” katanya.

Menurut Yudi, saat ini banyak negara-negara modern gagal mengelola multikulturalisme. Amerika Serikat dan Eropa sebagai salah satu contoh, kini malah Donald Trump anti imigran dan imigran di German harus mengikuti kebijakannya.

“Jadi, Indonesia ini menjadi mercusuar dunia. Dimana dengan keragaman ini sebagai takdir, sehingga kebhinekaan ini harus dirawat disamping mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat,” katanya.

Sedangkam Arbi Sanit, secara tegas merasa kecewa dengan munculnya gerakan pemaksaan kehendak akhir-akhir ini. “Kalau tidak tepat, agama itu bisa menjadi ancaman, yaitu islamisme yang memaksakan kehendak. Itu lebih gawat dari bahaya latin, karena akan memaksa orang keluar dari Indonesia. Itu akan terjadi kalau negara ini gagal mengatasi,” katanya.

Hal itu, kata Arbi, sebagai akibat implementasi demokrasi yang salah kaprah, yaitu demokrasi bebas multak. Padahal di Amerika saja dibatasi, tapi di Indonesia disalahgunakan. “Jadi, Pancasila sebagai dasar negara ini sudah final, meski secara ideologi bisa dikembangkan,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Ichsanuddin Noorsy menyimpulkan bahwa negara ini belum pernah melaksanakan ekonomi secara konstitusional. Khususnya pasal 23, 27, 31, 32, dan 34 UUD NRI 1945, apalagi Pembukaan UUD. Sudah terjebak dalam pasar bebas dunia yang gagal. Baik corporate capitalsime maupun state capitalism, dan Indonesia mempunyai koperasi kapitalisme.

Karena itu, kata Noorsy, Indonesia harus direkonstruksi. Apalagi kini menghadapi krisis keuangan, krisis pangan, dan krisis energi. Sehingga Indonesia belum pernah keluar dari gerbang krisis. “Indikatornya, nilai tukar terus melemah. Dengan demikian, reformasi selama ini berbuah krisis konstitusi. Konskuensinya, menimbulkan berbagai ketimpangan. Jadi, kita harus merekonstruksi dalam merawat kebhinekaan ini,” ujar Noorsy. | ferd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s